Thursday, August 30, 2007

gedhek...

Aku bingung nih
Kupikir becanda ternyata serius
Kusangka tidak penting ternyata very much importante..
Kukira sepele ternyata guedhe
Kuhipotesiskan kamu positif A ternyata negatif A
Duh,
Jika saja membaca perasaan semudah membaca abjad ABCD...Z tentu aku tidak akan termehek-mehek karenamu
Jika saja membaca perasaan ada kursusnya, bolehlah kau daftarkan aku ini. Oh ya, kelasnya: (Perasaan) KAMU, Ok..!

ada yang putus dan bersedih
terluka pedih seperti mati
oohh astaga
rapuhnya dunia
dunia cinta

ada yang ingin dan senang bercinta
tapi sudah tak ada
dia yang cantik
ooo astaga
dia memang cantik
menyakitkan

tapi ku lihat ke atas
Tuhan kan baik dan berkata
santai saja
cinta kan datang
santai saja
beri dia waktu
berfikir keras
dan dia kembali padamu (cantik tapi menyakitkan, java jive)


Nah, ini dia,
Jika sudah bisa membaca perasaan, kamu mau ngga sama aku?
Jangan bilang santai saja ya...dah gedhek nih nungguin kamu!

Wednesday, August 29, 2007

to whom it may concern

sebuah ilustrasi
==
”Halo..” (suara cewek 1 dari ujung telpon)
”Ya, Sandra. Ih, seneng degh denger suara kamu. Gi ngapain?” (suara cowok, cuman satu-satunya cowok di sini, dari ujung telpon yang berbeda)
Setelah ngobrol dan ngobral janji, si cowok nutup telpon. Tak berapa lama, telpon kembali berdering
”Halo..” (suara cewek 2)
”Ya, Sandra. Kenapa? Jadi kan?” (suara cowok)
”Sandra? Ini Dewi! Hayo, siapa Sandra! Kamu selingkuh ya?” (suara cewek 2 meninggi)
Cowok, ngeles, kanan kiri. Atas bawah. Cewek 2 luluh hati. Cowok berseru senang dalam hati, ”Yes!”
**
bukan sekali kau salah menyebut namaku
ow ow baby
kau sebut aku dengan nama ramli
padahal kau tahu namaku si tompi (aku tak mau, tompi)
==

Ga usah diterangin panjang lebar, semuanya pasti udah pada mafhum. Maklumlah ilustrasi seperti itu terlalu sering dijumpai di dunia yang penuh "buaya" (baik laki ato perempuan). Paling-paling kita bakal nyeletuk, ”Ah, amatiran sih! Kan udah ada di kamus buaya edisi ke sekian ratus sekian, disebutkan: bahwasanya, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan bersaaman dengan resminya status mendua, mentiga (bukan mentega, lhoh!), ataopun men-men yang tak terhitung lainnya, maka sangat dianjurkan untuk mengganti kata panggilan ke semua kekasih hati dengan: SAYANG, HONEY, CINTA, BEIB, SWEETY, MANISKU, dan sejenisnya. Tujuannya satu: mencegah terjadinya ’perang dunia’ seperti ilustrasi di atas.”
(hehehe, perasaan ini bukan celetukan degh ya, masak nyeletuk sepanjang ini. Iya kan?...Eits..tunggu dulu! Ndak usah dijawab. Ndak penting, Ok ya..ya..ya..)

So, gimana enaknya nyambung ke paragraf berikutnya, ”Ada masukan? Ayo dong, jangan cuman pasif? Mbok, jadi pembaca tuh sadar dikit. Kasih input. Masukan gitu..”

To whom it may concern (ini sangat jumping kan? Ya iya lah, secara kalian, pembaca, ndak kasih input, sementara masih ada hal penting yang harus dituliskan, ya terpaksalah jumping. Lagipula kalo dipaksakan kayak gini kan enak di semuanya. Saya kelihatan cerdas, bisa nulis panjang. Kalian semua enak karena dapat bahan bacaan lumayan panjang, iya toh? :P)

Yup, ”To whom it may concern” adalah kosakalimat (????) baru yang bisa dimasukkan dalam kamus buaya edisi yang diperbaharui (ck..ck...bahasanya :D ). Kalimat ini cocok digunakan sebagai penutup pada sms atau email yang berbau: Miss U; Kamu Ngangenin Deh; Telpon Dunk!; dsb.

Hehehe, cerdas kan? Cerdik kan atau ?? Terserahlah kalian menamakannya. ”Buaya” emang ga ada matinya! :P

(heran aku, pengen nulis hal sepele kayak gini ajah sampeh berparagraf-pragraf..... :P)

mati angin

Seperti ini ya rasanya "mati angin"? Bingung mau nulis apa, sementara kebutuhan untuk menulis tak pernah hilang (karena banyak hal yang ingin -dan seharusnya bisa- diceritakan dalam bentuk tulisan). Pengennya sih, bisa seperti kata Mr. Hernowo (penulis buku) yang mengatakan (kira-kira begini), ”Menulislah, terus saja, jangan berhenti, nanti kan akan ada ide yang datang.” Tapi apa mau dikata, kemampuan menulis memang masih se-uprit (level beginner, red). Niat nulis juga turun naik, seperti roller coaster. Parahnya, frekuensi membaca pun semakin berkurang. Perfetto isn’t it? :D

Mo nulis apa hayo???
...................(to be continued)*

Ps: * biar keren sih, biar disangkanya ada sambungannya, padahal ya emang segitu aja mampunya, hehehe

Thursday, August 23, 2007

tanpa ujung

nyebelin!
nyebelin ngga sih kalo anda sedang berusaha menyambung komunikasi dengan teknologi yang bernama chat, tapi kemudian tidak tersambung alias si anu-nya sedang oflen.
kalau jawaban anda iya, baguslah! setidaknya, berarti, saya tidak feel alone.
==
memacu adrenalin dengan helm
sesekali, lepaskan helm. kendarai sepeda motor anda di jalan protokol jakarta, berharap-harap cemas luput dari incaran polisi. nikmati sensasinya!
==
wrong time, wrong place..
salah posisi, salah bergerak, salah timing, ya…GOL!
==
Tuhan, aku capek sekali. just need somebody, to be my shoulder to cry on..
==
aku ingin menangis. sekencang mungkin
==
puisi cinta jarak jauh
ah, coba kamu di jakarta! aku pasti tidak akan kecapean menunggu bulan berakhir
==
puisi cinta jarak dekat
....
(ndak ada isinya, lha wong ndak sempet nulis, bawaannya mesra terus.. :p )
==
rasanya susah sekali untuk berdiam. semua mesti, kudu dan harus bergerak. tapi, bukankah hidup itu adalah keseimbangan, jika terus bergerak, kapan aku bisa mereview setiap gerakku, merenungkannya kembali dan menata ulang, jika perlu!
==
ketika waktu berlari, di denyut kehidupan sana. aku melihat anak-anaku berlarian meninggalkanku. tapi anehnya aku yang disana tersenyum lega, sementara aku yang sekarang, tercenung, diam dalam takut
==
aku cinta kamu, sangat, sangat, hanya saja tidak bisa. aku tidak bisa. hatinya terlalu baik untuk dilukai. meskipun, sebenarnya, dengan mencintaimu pun aku telah melukainya. maaf...

jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali
kita berbincang tentang memori di masa itu
peluk tubuhku usapkan juga air mataku
kita terharu seakan tidak bertemu lagi

bersenang-senanglah
kar'na hari ini yang 'kan kita rindukan
di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan
bersenang-senanglah
kar'na waktu ini yang 'kan kita banggakan di hari tua

sampai jumpa kawanku
s'moga kita selalu
menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan
sampai jumpa kawanku
s'moga kita selalu
menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

bersenang-senanglah
kar'na hari ini yang 'kan kita rindukan
di hari nanti...

mungkin diriku masih ingin bersama kalian
mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian (sebuah kisah klasih, so7)

==
aneh
lucu ya!
kenapa? di mana lucunya?
lucu aja!
hahaha
kenapa?
pengen aja!
===
semoga tidak terlalu berat :D

Monday, August 20, 2007

beberapa babak di pagi hari ini

Semalam, bapak & ibu mertua, plus adik iparnya mas saya datang dari Yogya. Tanpa agenda, hanya ingin nengok. ”Ndak popo to, mamah kangen je (nda apa-apa kan, mamah kangen sih, red),” kata ibu mertuanya mas saya ketika melihat reaksi kaget seisi rumah.

Saya ndak ingin ngomongnya jadi panjang lebar. Nti jadinya ndak fokus, jadi langsung saja (halah..ini juga nunjukin kalo emang susah ga ngelantur :D ).

Begini, Ok, fokus...ke Ibu mertua! Ibu mertuanya mas saya ini orangnya njawani banget. Baik, ramah, suka ngajak ngobrol (apa aja diobrolin, sumpeh!) dan kalo ngendiko (bicara, red) halus banget. Oh ya, satu lagi, Beliau sangat suka sinetron Soleha.

Cukup (tentang) profile-nya, sekarang masuk ke bab selanjutnya: yang mo diomongin di tulisan ini, yang itu adalah kegemaran Beliau untuk selalu memakai bahasa Jawa (padahal, aseli, lancar berbahasa Indonesia).

Pagi tadi, mbak Ros (pembantu di rumah) datang, pukul 7-an pagi, ketika saya sedang ”sarapan” koran. Oh ya, biar tidak kacau balau berikut adalah profile singkat Si Mbak: (1) Perempuan; (2) Betawi; (3) Ibu 3 anak

babak 1
Di gerbang, Si mbak bertemu ibu mertuanya mas saya (duh, panjang banget, ada yang bisa membantu membuatkan kata ganti yang pas???). Karena belum pernah bertemu sebelumnya, Ibu mertuanya mas saya ini mengira Mbak Ros sebagai tamu. ”Madhosi sinten mbak? (Nyari siapa mbak, red),” tanya Beliau ramah. Mbak Ros yang dari kandungan sampe melahirkan 3 anak belum pernah menginjak tanah jawa dan tidak bisa berbahasa jawa, tentu saja bingung, dan dengan polosnya mengulurkan tangan,”Saya Ros, mbak di sini”.....

babak 2
Mbak Ros sedang mencuci piring di wastafel ketika ibu mertuanya mas saya kembali bertanya, dan lagi-lagi, dalam bahasa jawa, ”Mbak, putrane pinten?”. Mbak Ros yang merasa diajak ngomong tentu saja tentu saja bingung harus menjawab apa (maklumlah, ngga ngerti yang diomongin). Reflek dia menoleh ke arah saya yang sedang memasak mie, ”Mas, ibu ngomong apa?”. ”Ooh..ibu tanya, Mbak Ros anaknya ada berapa?” jawab saya sambil berbisik. ”Tiga bu, laki semua, yang paling besar sudah kerja, yang kedua mbantuin bapaknya di rumah, yang paling kecil masih 4 tahun,” jawabnya panjang. ”Sengaja mas, sekalian, soalnya saya takut kalo ditanyain lagi. Pan kagak ngarti jawa!” ujarnya lirih ke saya.

(Oh, Mbak Ros, Mbak Ros, betapa malangnya dirimu...kau tidak mengerti bagaimana ”perilaku” ibu-ibu [jawa] ketika "mencari" bahan pembicaraan, hahaha)

”Wah, joko (lelaki, red) semua ya. Hampir sama dengan saya. Anak saya lima, nomer satu sampe tiga juga joko. Nah, Ibu (istrinya mas saya, red) itu anak puteri pertama, yang terakhir, eh, puteri juga,” sahut ibu mertuanya mas saya.

(karena ini diucapkan dengan bahasa campuran, Mbak Ros pun merasa tidak perlu bertanya ke saya, apa arti omongan ibu mertuanya mas saya)

”Lhoh, anak saya kagak ada yang Joko, Bu. Yang nomer satu: Riki, nomer 2: Ridwan, terakhir: Samsul” jawabnya segera....

babak 3
Mas dan mbak pergi ke kantor. Menyusul kemudian, saya. Entah bagaimana cerita mereka berdua. Semoga, Ibu mertuanya mas saya, tidak keseringan berucap dalam bahasa Jawa....hahahahaha...

Friday, August 17, 2007

malam (yang) aneh!

14 Agustus 2007
Si Nduk datang lagi. Katanya, ”Aku rindu dengan senyum Mas”. Jadilah kutemani dia semalaman. Awalnya terpaksa, akhirnya, berubah. Aku tersadar, aku butuh si Nduk.

Si Nduk tertidur pulas di sampingku. Sesekali terdengar batuknya. Badannya ternyata tidak sekuat jiwanya. Malam ini hujan turun, rintik-rintik. ”Ah, wajahnya damai sekali,” batinku sambil membetulkan selimut. Aku beringsut, malam terlalu larut. Aku harus segera pulang, tidak enak. Ada banyak mata yang mengawasi. Ada banyak mulut yang akan mengguncingkan, jika aku terus menemaninya.

Di rumah, hujan reda. Aku yang kelelahan tak berdaya melawan kantuk. Kurebahkan tubuhku di atas kasur. Terlelap.

Jarum jam bergerak kencang. Pagi telah datang. Sentuhan lembut di kening membuat kesadaranku tersentak lebih cepat. Si Nduk datang lagi. ”Aku ingin melihat bunga-bunga bermekaran di pagi hari, dari jembatan kembar sebelah rumahmu Mas,” katanya masih dengan menyentuh keningku. Aku takbisa bersuara, hanya mengangguk pelan. Si Nduk tersenyum.

Di jembatan kembar, Si Nduk menggandeng tanganku, erat sekali. Entah darimana datangnya, pagi itu, meski untuk sesaat, jiwaku tenteram....
==
Mimpi yang aneh. Kucoba memutar ulang setiap detil adegan dalam mimpi, tapi, tetap saja, selalu terasa janggal, aneh.

Semalam hujan turun. Sedikit tidak biasa tatkala kemarau telah datang. Seorang teman menemaniku bercengkerama. Menjawab pertanyaan-pertanyaan ”gila” yang sebenarnya tidak jelas fiktif-tidaknya:

  • Boleh ga kawin lari? (jawabnya: TIDAK!)
  • Bisa ga sih putus hubungan tanpa sebuah alasan? (jawabnya: tergantung pada pasangan, tapi sebisa mungkin JANGAN)
  • Boleh ga mutusin sebuah hubungan karena takut tidak bisa membahagiakan pasangan? (jawabnya: tidak menjawab, hanya bilang,”itu kekhawatiran yang wajar”)
  • Boleh ga kangen ke mas-mas? :D (jawabnya: hahahaha!)
  • Sop Iga-nya enak? (jawabnya: SANGAT TIDAK ENAK!)
  • 10 tahun lagi, bagaimanakah kamu? (jawabnya: Seharusnya sudah ada 2 orang anak yang memanggilku Ibu)
  • Kamu sih, ga mau sama aku? (jawabnya: hahahaha, you never ask me!)

”Uncommon people!” ucapnya sambil tersenyum simpul. ”Ah, bilang saja Aneh,” sahutku singkat. Dia sering terbahak, cukup keras, hingga bahunya terguncang dan matanya membentuk garis.

(Lelaki yang aneh. Perempuan yang tidak kalah anehnya. Menghabiskan malam yang aneh pula!)
==
satu detik lalu
dua hati
terbang tinggi lihat indahnya dunia
membuat hati terbawa

dan bawaku kesana
dunia fatamorgana
termanja manja oleh rasa
dan kuterbawa terbang tinggi oleh suasana

dari sudut mata
jantung hati
mulai terjang bisik telinga
coba ingat semua

dan bangunkanlah aku
dari mimpi mimpiku
sesak aku disudut bayang
dan tersingkir dari dunia nyata

dan bangunkanlah aku
dari mimpi indahku
karena anganku berlari
dari rasa yang harus kubatasi

dan kau menawarkan
rasa cinta dalam hati

kutak tahu harus bagaimana untuk hal bermimpi
ataupun lantaran bedakan rasa dan suasana dalam
rangka sayang atau cinta yang sebenarnya

dan bangunkanlah aku
dari buta mataku
jangan pernah lepaskan aku
untuk tenggelam dalam mimpi mimpiku (sebenarnya cinta, Letto)

==
Percuma berbohong. Ada gejolak yang membuat jiwa tidak tentram. Fyuh....

Sudahlah, sudahi saja. Malam ini memang aneh sekali!

***
15 Agustus 2007
Malam yang tidak kalah aneh! Meski tanpa sop iga, perempuan aneh dan perbincangan yang aneh. Hanya hujan, itu pun cuman sebentar. Tapi tetap saja, malam yang (tidak kalah) aneh!
==
Si Nduk (lagi-lagi) datang lagi. Kali ini dia membawa sekeranjang gift: ”U’ re so lucky. U have everything: a job; a girl; a happy family; a life”
==
Kepalaku pusing, SAKI...T BANGET...! Bismika Allahumma Akhya Wa Bismika Amuut. Semoga ada matahari untukku esok pagi...

Monday, August 13, 2007

sing sabar ya nduk!

di ujung lalu
napas terhela
”sing sabar yo nduk!”

”nduk, kamu ndak papa kan?”

nduk menangis
terluka
aku menangis
sama terlukanya
dunia tertawa
tanpa luka

di ujung lalu
napas terhela
”sing sabar yo nduk!”