Wednesday, September 12, 2007
jelang romadlon...
Thursday, September 6, 2007
mengulang mimpi
”Kok dengaren Le, bengi-bengi adus (ada apa, ngga biasanya kan kamu mandi malam),”kata masku sambil mengecilkan volume Tv. Maklumlah jam di dinding sudah bergerak ke arah 11 malam.
”Lhoh, udah sebulan terakhir kok, Yah, bocah kuwi sregep adus bengi! (lhoh, udah sebulan ini kok Yah, anak itu rajin mandi malam),”sahut mbak iparku yang memang lebih banyak frekuensi perjumpaannya denganku dibanding masku –yang memang sering mendapat tugas malam di kantornya.
”Hehehe..for the sake of love Bos!”kataku sambil ngibrit ke kamar, mencari kehangatan
”Ooh...baguslah, ben nyamuk-e berkurang banyak! (ooh..baguslah, bair nyamuknya berkurang)” sahut masku sambil tertawa
Di kamar aku tersenyum...malam ini aku mandi malam lagi. Dan akan terus melakukannya. Bukan karena nyamuk, tapi karena aku ingin seperti hari-hari sebelumnya (ketika aku mandi di malam hari): (terus) bisa bertemu Si Nduk di malam hari, dan di pagi harinya, Si Nduk mencium keningku, ”Bangun dong sayang, udah pagi.”
ketika alter romantis menyapa
Seorang teman, yang beranggapan bahwa saya seorang yang romantis, meminta tolong agar saya me-list daftar lagu-lagu yang sekiranya bisa membuat temannya teman saya menangis (bahagia) ketika bersanding di altar perkawinan. Teman saya mengatakan bahwa sebenarnya temannya teman saya itu meminta list itu darinya, karena kata temannya teman saya, teman saya itu seorang yang romantis. ”Padahal kan, hahahaha, dia salah besar,” kata teman saya. Menjadi lucu karena teman saya juga salah (tentang saya). ”Aku romantis? Romantis dari Hongkong! Hahaha,” tawa saya dalam hati.
Tapi, ya begitulah, karena saya memang baik, suka menolong, rendah hati, ramah tamah, polos, dan suka menabung (ck..ck..hm...hoek! hahaha) maka saya pun membiarkan segala praduga romantisnya tersebut. Segera saja, saya bermetamorfosis dengan sempurna menjadi sosok yang romantis. Dan...berhasil! Dengan tjara seksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja terkumpullah list lagu-lagu yang (sekiranya) bisa menggetarkan apa saja yang bisa bergetar:
- saat aku lanjut usia (sheila on 7)
- hingga ujung waktu (sheila on 7)
- hanya kamu yang bisa (kerispatih)
- menikah (java jive)
- tak sebebas merpati (kahitna)
- takkan terganti (kahitna)
permaisuriku (kahitna) - akhirnya ku menemukanmu (naff)
- endless love (mariah carey/diana ross/lionel ritchie)
- you make my world so colorful (daniel sahuleka)
- if i didn’t (daniel sahuleka)
- my valentine (martina mcbride)
- just the way you are (billy joel)
- from this moment (shania twain)
- man, i feel like a woman (shania twain)
- love (michael buble)
- everything (michael buble)
- it had to be you (frank sinatra)
- cant take my eyes of you (frank sinatra)
- have i told lately (rod stewart)
- sometimes when we touch (rod stewart)
- never find someone like you (keith martin)
- because of you (keith martin)
- when a man love a women (michael bolton)
- i finally found someone (bryan adams & barbra streisand)
- i will (david foster)
- i’ll take care of you (steve curtis chapman)
- something stupid (robbie williams & nicole kidman)
Gilee beneer..saya iseng-iseng memutar semua lagu ini, seharian, ternyata memang Mak Nyuuusz..hm..jangan-jangan saya memang romantis, hahahaha..geblegh!
Monday, September 3, 2007
terseret arus
Saya, terus terang saja, merasa kurang begitu sreg dengan rencananya. Bukan karena alasan sederhana seperti, misalnya –ini permisalan saja- saya pro poligami. Sampai alasan picik, seperti misalnya –ini juga permisalan-saya iri. Buat saya, menolak poligami (sebagaimana menerima poligami) adalah sebuah pendapat yang tentunya sah-sah saja untuk dikemukakan. Artinya, saya sadar, sesadar-sadarnya bahwasanya I have no right to say: Dont! Siapa (juga) saya kok ngelarang-larang dia? Lagipula, buat saya, apapun itu, sebuah karya –meskipun masih dalam tataran ide- harus dihargai.
Tapi, ya itu, saya masih saja merasa bahwa ada yang mengganjal di dada, ”Kenapa mesti poligami? Tidak adakah hal lain yang bisa diangkat?”
”Kerisauan” ini didasarkan pada kenyataan bahwa poligami (dalam sudut pandang fikih Islam) adalah ”permasalahan” yang masih ”debatable” Ada ”sejumlah” ulama yang membolehkan, ada ”sejumlah” lain yang menolaknya. Alasannya beragam dan saling meng-counter satu dengan yang lain. Titik perbedaan di antara para ulama’ tersebut adalah menyangkut tafsir atas Surat An-Nisa` ayat 3, termasuk juga perbedaan di dalam mengambil kesimpulan hukum melalui sabab al-nuzul (sebab turun, red) ayat tersebut. Dan, jika begini terus, perdebatan tentang boleh-tidaknya sangat mungkin akan terus berlangsung. Hal ini karena, sebagaimana pandangan Buya Syafi’i Ma’arif, tafsir adalah sesuatu yang mutlak dalam kenisbian.
Kondisi ini mau tidak mau memaksa saya (sebagai pribadi) untuk melihat poligami dari sudut pandang legal-formal, dan itu berarti poligami (dengan segala persyaratannya) adalah sesuatu yang dilegalkan oleh negara ini (lihat UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan). Selesai (pro-kontranya)? Belum! Baru-baru ini ada wiraswastawan dari Jakarta Selatan, bernama M. Insa, mengajukan judicial review terhadap UU ini. Alasannya, UU ini membatasi hak kebebasannya untuk beribadah sesuai agamanya. Nah lho!
So, sepertinya cukup beralasan sekiranya saya terus didera pertanyaan, ”Kenapa mesti (”masalah”) poligami? Tidak adakah hal lain yang bisa diangkat?”
Astaghfirullahal’adliim. Gusti, ampuni hamba-Mu ini. Di saat masih banyak anak-anak yang putus sekolah, kesulitan mendapatkan fasilitas kesehatan, berseliweran di jalanan dan jauh dari kata ”penghidupan yang layak,” kok (saya) malah (ikut-ikutan) ”terseret arus” membahas poligami.
Thursday, August 30, 2007
Manusia dan Misteri Sebuah Rasa
somebody please stop the moon from falling down
coz i’m falling in love tonight (tompi)
Kedua, rasa semakin dalam. Dua manusia semakin tak kuasa menahan rasa. Rasa pun menggerakkan bibir untuk mengucap kata sayang, cinta dan setia. Dua manusia pun kini semakin terikat oleh rasa.
I'll stand by you
Won't let nobody hurt you
I'll stand by you
Take me in, into your darkest hour
And I'll never desert you
I'll stand by you (i’ll stand by you, rod stewart)
Ketiga, rasa berganti rupa: ada bosan, benci, setia, komitmen...
Menjadi bosan, rasa pun pergi
Menjadi benci, rasa menutup semua kenangan indah, berganti dendam berkepanjangan
Menjadi setia, rasa mengikat dua manusia semakin dalam
Menjadi komitmen, rasa mengikat dua manusia sampai di ujung usia...
Ah, rasa tak pernah sama.... urutannya bisa jumpalitan tak karuan, belum lagi jika memperhitungkan variabel-variabel turunannya...
gedhek...
Kupikir becanda ternyata serius
Kusangka tidak penting ternyata very much importante..
Kukira sepele ternyata guedhe
Kuhipotesiskan kamu positif A ternyata negatif A
Duh,
Jika saja membaca perasaan semudah membaca abjad ABCD...Z tentu aku tidak akan termehek-mehek karenamu
Jika saja membaca perasaan ada kursusnya, bolehlah kau daftarkan aku ini. Oh ya, kelasnya: (Perasaan) KAMU, Ok..!
ada yang putus dan bersedih
terluka pedih seperti mati
oohh astaga
rapuhnya dunia
dunia cinta
ada yang ingin dan senang bercinta
tapi sudah tak ada
dia yang cantik
ooo astaga
dia memang cantik
menyakitkan
tapi ku lihat ke atas
Tuhan kan baik dan berkata
santai saja
cinta kan datang
santai saja
beri dia waktu
berfikir keras
dan dia kembali padamu (cantik tapi menyakitkan, java jive)
Nah, ini dia,
Jika sudah bisa membaca perasaan, kamu mau ngga sama aku?
Jangan bilang santai saja ya...dah gedhek nih nungguin kamu!
Wednesday, August 29, 2007
to whom it may concern
==
”Halo..” (suara cewek 1 dari ujung telpon)
”Ya, Sandra. Ih, seneng degh denger suara kamu. Gi ngapain?” (suara cowok, cuman satu-satunya cowok di sini, dari ujung telpon yang berbeda)
Setelah ngobrol dan ngobral janji, si cowok nutup telpon. Tak berapa lama, telpon kembali berdering
”Halo..” (suara cewek 2)
”Ya, Sandra. Kenapa? Jadi kan?” (suara cowok)
”Sandra? Ini Dewi! Hayo, siapa Sandra! Kamu selingkuh ya?” (suara cewek 2 meninggi)
Cowok, ngeles, kanan kiri. Atas bawah. Cewek 2 luluh hati. Cowok berseru senang dalam hati, ”Yes!”
**
bukan sekali kau salah menyebut namaku
ow ow baby
kau sebut aku dengan nama ramli
padahal kau tahu namaku si tompi (aku tak mau, tompi)
==
Ga usah diterangin panjang lebar, semuanya pasti udah pada mafhum. Maklumlah ilustrasi seperti itu terlalu sering dijumpai di dunia yang penuh "buaya" (baik laki ato perempuan). Paling-paling kita bakal nyeletuk, ”Ah, amatiran sih! Kan udah ada di kamus buaya edisi ke sekian ratus sekian, disebutkan: bahwasanya, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan bersaaman dengan resminya status mendua, mentiga (bukan mentega, lhoh!), ataopun men-men yang tak terhitung lainnya, maka sangat dianjurkan untuk mengganti kata panggilan ke semua kekasih hati dengan: SAYANG, HONEY, CINTA, BEIB, SWEETY, MANISKU, dan sejenisnya. Tujuannya satu: mencegah terjadinya ’perang dunia’ seperti ilustrasi di atas.”
So, gimana enaknya nyambung ke paragraf berikutnya, ”Ada masukan? Ayo dong, jangan cuman pasif? Mbok, jadi pembaca tuh sadar dikit. Kasih input. Masukan gitu..”
To whom it may concern (ini sangat jumping kan? Ya iya lah, secara kalian, pembaca, ndak kasih input, sementara masih ada hal penting yang harus dituliskan, ya terpaksalah jumping. Lagipula kalo dipaksakan kayak gini kan enak di semuanya. Saya kelihatan cerdas, bisa nulis panjang. Kalian semua enak karena dapat bahan bacaan lumayan panjang, iya toh? :P)
Yup, ”To whom it may concern” adalah kosakalimat (????) baru yang bisa dimasukkan dalam kamus buaya edisi yang diperbaharui (ck..ck...bahasanya :D ). Kalimat ini cocok digunakan sebagai penutup pada sms atau email yang berbau: Miss U; Kamu Ngangenin Deh; Telpon Dunk!; dsb.
Hehehe, cerdas kan? Cerdik kan atau ?? Terserahlah kalian menamakannya. ”Buaya” emang ga ada matinya! :P
(heran aku, pengen nulis hal sepele kayak gini ajah sampeh berparagraf-pragraf..... :P)