Tuesday, April 12, 2011

gaul ala pegawai ;)

"Jadi pegawai, ga hutang, ya ga gaul"

Itu guyonan yang dilontarkan salah satu pejabat. Tapi, lucunya -setidaknya dalam pandangan saya- guyonan ini benar-benar pas untuk menggambarkan bagaimana "fenomena berhutang" di kalangan pegawai (PNS). Asli (!) hampir 100% pegawai yang saya kenal pasti punya hutang.

Maunya sih, tidak berhutang. Tapi apa mau dikata?
Alasannya, macem-macem: (1). Untuk sekolah: nglanjutin ke jenjang yang lebih tinggi dan nyekolahin anak; (2). Beli kendaraaan : ganti sepeda jadi motor, ganti motor jadi mobil, ganti mobil dengan yang lebih baru; (3). Modal kawin (hehehe, beneran loh!); (4). Investasi/modal usaha: beli tanah, beli sapi; (5). Rehab/Beli rumah, ini jadi #1 alasan berhutang.

Maunya sih, tidak berhutang. Tapi apa mau dikata?
Syarat berhutang untuk pegawai, asli gampang. Modal dasarnya: nyekolahin SK CPNS/PNS di Bank.

Maunya sih, tidak berhutang. Tapi apa mau dikata?
Jadi, Ayo ke Bank! :P


Sunday, April 10, 2011

fenomena jalak kebo

Saya berhutang tulisan ini, tentang "Fenomena Jalak Kebo".

Saya akan mencoba menuliskannya panjang lebar, yach.. lagaknya orang yang pandai menulis lah, padahal..hehehe....

Sebenarnya ini cuma istilah yang "ngawur." Lha wong semua hanya berdasarkan pada perspektif pribadi kok. Saya akan mencoba mendeskripsikannya sebaik yang saya bisa.
==
Identitas diri itu perlu, karena memang disanalah eksistensi seseorang. Hanya saja, seringkali, identitas diri itu ditonjolkan dengan cara yang berlebihan, sehingga -meskipun tidak disadari- berujung pada kesombongan/pamer.

Teman saya, janganlah, ga usah bawa-bawa teman, saya saja, cukup jadi contohnya. Dulu, dengan menyandang status karyawan di sebuah stasiun nasional, saya selalu merasa superior setiap kali bertemu dengan teman-teman lama, apalagi kalo dari kampung dan kuliah. Saya merasa. "Ini lho, aku saiki wis sukses!" Kepongahan yang semakin menjadi apabila lawan bicara menyambutnya dengan "penuh kekaguman." Padahal, saya ini bukan siapa2 di tempat kerja. Hanya staf biasa. Sama sekali bukan "orang sukses." Orang jawa bilang, saya ini "nyende wit jati." Saya hanya ndompleng nama besar perusahaan.

Saya juga akan dengan bangganya, masuk ke mall dan pasar dengan berseragam kantor. Motifnya, pamer! (Hih...!). Saya ingin melihat orang melihat, menoleh dan memandang penuh kagum. Padahal, saya bukan staf yang bekerja di lapangan, yang memang dituntut untuk berseragam dalam setiap liputan. Saya hanya staf kantoran.

Saya dengan santainya mengirim pesan pendek ke setiap kenalan di saat hari raya dengan membawa-bawa nama perusahaan di belakang nama saya. Motifnya, pertama sih, biar orang ngeh kalo yang ngirim itu saya (maklumlah nama saya rada "pasaran" ;) ) tapi lama-lama...Pamer! Padahal, semua semu belaka. Yang saya "pamer-kan" itu kantor saya, bukan saya.

Saya seperti (burung) jalak kebo. Kecil, tapi ingin selalu terlihat besar. Identitas yang saya bangun bukan identitas diri saya yang sebenarnya. Saya, tanpa sadar, telah menghilangkan identitas saya sendiri sebagai sebuah manusia.

Saya lupa dan alpa, bahwa identitas itu seharusnya dibangun melalui kerja keras dan integritas. Menjadi "terkenal" karena buah dari kemampuan diri sendiri, tanpa perlu mendompleng nama besar perusahaan, trah keluarga ataupun title yang melekat. Jadi cukuplah saya dikenal sebagai saya: Taqi. Itu saja, cukup.





Saturday, April 9, 2011

jalan terbaik

Seandainya, saat itu aku begini, pasti aku sekarang begini. Ah, seandainya aku mengambil kesempatan itu, pasti semuanya tidak begini. Seandainya...seandainya...!

Sejarah tidak mengenal pengandaian. Pasrahkan pada keputusan-Nya. Percayalah itu yang terbaik.

kang parmo

Hujan. Di dalam becak, Kang Parmo meringkuk. Tubuhnya membentuk busur. Tangannya menarik kedua lututnya hingga beradu dengan kepala. Berharap ada cukup kehangatan untuk melawan dinginnya malam.

Gagal. Kang Parmo, menyentak lemah. Hujan turun semakin deras. Dingin semakin menggigit. Kang Parmo meraba "dompetnya", sebuah plastik lusuh. Hanya ada selembar sepuluh ribuan di sana. Itu hasil mengayuh seharian ini.

Kang Parmo menggigil, terbayang suara anaknya, "Pak'e, adek pengen maem telur. Mangke, tumbaske ya!"
===

"Lha, niki mangke badhe didhamel pripun Mas? Nawi saged ampun dibongkar, kersane kulo cobi akali" ujar Kang Parmo sambil membongkar peralatan tukangnya. "Monggo lah Kang!" jawabku sambil mengaduk teh hangat untuknya. Hari itu, kran air dapur rusak. Tandon air juga bermasalah. Dapur, kebanjiran.

Kang Parmo segera bekerja, bergerak tangkas. Sebentar saja, peluh nampak membasahi lengannya yang legam. Alam menempa tangannya: kasar dan keras.
===

"Monggo, Pak. Sandal, sepatune. Mirah. Kaleh doso, saged kirang," sapa Kang Parmo pada setiap pengunjung yang lewat di depan "kiosnya", sebuah pick up hitam dengan terpal biru di trotoar depan kantorku. Malam itu sedang terang. "Alhamdulillah, dagangan hari ini lumayan rame Mas." Senyumnya berkembang.
===

"Kulo sampun nate kerjo macem2 Mas, sing penting Halal. Sakniki pun syukur sanget. Saged nyambi sadean," ujarnya dalam sebuah perbincangan ketika menemaniku lembur. Malam itu, dia piket jaga malam. Kang Parmo meniti hidupnya dengan penuh kesyukuran.

Wednesday, July 7, 2010

ketika sepakbola bicara tentang pragmatisme dan harapan

"dan sepakbola menyerang pun kembali kalah.."

Itu status yang saya tulis, tepat setelah Spanyol menelan kekalahan "menyakitkan" dari Swiss di partai pembuka Grup H Piala Dunia 2010. Tak lama, seorang teman memberi comments "sepakbola itu mencetak gol, bukan menyerang."

Teman saya itu benar adanya. Mencetak gol (dan menang) itulah "final result". Tim yang paling banyak mencetak gol itulah yang akan didaulat sebagai "Sang Pemenang." Yet, the goal is count. Apapun caranya, bagaimanapun gaya bermainnya: mau pake gaya Tango, Samba, Total Football, Catenaccio, full attack kek, counter attack kek, ga penting.

Namun, dalam otak saya, sepakbola adalah permainan. Dan esensi dari permainan adalah sebuah naluri manusia untuk meluapkan hasrat kegembiraan. Dan itu berarti , bermain dengan penuh sukacita, terbuka, dan menyerang! Kalo hanya untuk mencetak gol, an sich, buat saja sepakbola menjadi ajang adu penalti, atau kalo perlu adu dadu saja, tanpa perlu ada permainan 2 x 45 menit.

Tapi, tak sampai sepersekian menit, saya kemudian menengok lebih jauh lagi, menyingkap selubung kemunafikan yang melekat erat. Saya yang memuja sepakbola sebagai permainan tetap saja bersorak gembira, ketika melihat tim kesayangan menang. Terpekur ketika tim kesayangan tersungkur. In the deepest of my heart, menang ternyata memang masih jadi "Final Goal". Bagaimanapun cara dan gayanya. Pathetic...

Makin dalam saya membuka selubung itu, makin menyedihkan. Dalam sisi kehidupan yang lain, realitas menang sebagai "final goal" nyata adanya:
1. UN sebagai penentu lulus tidaknya siswa. Yang penting ujian lulus, mau pas sekolah ngaco, ga papa.... ah, kejauhan, tak usahlah ngomongin itu.
2. Ketika lulus kuliah saya ngotot mencari kerja. Padahal itu bohong. Saya tidak pernah mencari kerja, karena kalo memang hanya mencari kerja, semestinya kerja apapun saya bisa. Final goal saya bukan mencari kerja, tapi mencari uang. Karier tertinggi dalam pekerjaan selalu saya ukur dengan nominal uang (atau jabatan). Saya lupa esensi manusia yang diajarkan Rosulullah saw: "Karier tertinggi seorang manusia adalah ketika ia menjadi mahluk yang bermanfaat bagi sesamanya"

Saya menulis ini bukan tanpa maksud. Saya sedang belajar menerima bahwa kalah-menang bukan akhirnya segalanya. Karier & uang itu bukan tujuan. Bukan final result. Bukan pula final goal. Itu hanya bonus.

Wish me luck!

Friday, June 4, 2010

matahari dan bumi

"dan pada saatnya, akan ada matahari dan bumi, yang sayangku kepada mereka, melebihi sayang mereka padaku"

Aku yakin, Matahari itu ber-gender laki-laki, seyakin bahwa Bumi itu perempuan.

breaking dawn

akhirnya... tidak, ini bukan akhirnya. Ini adalah (semoga) awal baru dari sebuah masa hibernasi yang sangat lama (fiuh... lebih dari setahun aku tidak menyentuh blog ini).

Terlalu banyak hal yang blog ini lewatkan: pulang kampung, perpisahan dengan si Ega, hadirnya Bila -bidadariku, hingga perjalanan tangis-tawa; sedih-bahagia yang tidak bisa dihadirkan. Aku memberi terlalu banyak ruang untuk kemalasan dan alasan2 pembenarnya.

Tulisan ini, (seperti judul terakhir novel 4 babak yang baru saja selesai kubaca) adalah breaking down.