Thursday, February 13, 2014

Inna Ma’al Usri Yusro




Dua. Itu jumlah bayi yang dilairin Si Pus -satu dari dua kucing betina di rumah. Minggu kemarin, Mbah Bulik dan Mba Bila nemenin lairannya. Heboh! Lebih heboh orang rumah daripada kucingnya:
·       Bapak sibuk nyari kardus dan kain buat tempat lairan
·       Mbah Bulik ngelus-ngelus perut Si Pus
·       Mba Bila sibuk mbuatin susu.
·       Si Pus? Doi lenger-lenger...

Sementara itu, seperti biasa. Aku jadi cekrek boy. Mengabadikan momen itu melalui kamera HP-ku.

Pasca lairan, aku menyiapkan susu -yang uda dibuat Mba Bila, dan alhamdulillah Si Pus, dengan semangat menghabiskan susunya. Rasanya, seneng banget. Setelah beberapa hari nampak kesakitan. She’s back!
--
Sudah hampir dua bulan, periode sulit ini menemaniku. Momen Si Pus lairan, adalah satu momen yang menjagaku tetap sober, selama aku percaya pada ”mantra” Inna Ma’al Usri Yusro, maka akan ada selalu light. Aku percaya bahwa lorong ini adalah lorong yang berujung.
--
Pas gini, ga ngerti kenapa, aku sering keinget dia. Aku mengingatnya? Pasti. Bagiku, meskipun sebentar, dia adalah orang, yang padanya aku menanggung hutang kebaikan. Jazaakillahu khairan..
--
Ehmm.. nulis apa lagi ya...sudah ah, badanku sudah sangat capek. Bolak-balik Jogja-Semarang plus tumpukan tugas cukup efektif menurunkan berat badan. Hiks, makin kurus nih... :(
--
Eh, hampir lupa, sudah dua minggu ini, aku demen banget ama Fix You-nya Coldplay:

When you try your best, but you don't succeed
When you get what you want, but not what you need
When you feel so tired, but you can't sleep
Stuck in reverseWhen the tears come streaming down your face
When you lose something you can't replace
When you love someone, but it goes to waste
Could it be worse?

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
--

Tuesday, February 11, 2014

menyemangati diri



Hidup bukan tuk berdiam diri
Hidup ada tuk kita jalani
Cobaan bukan tuk ditakuti
Cobaan harus kita hadapi
Bagai mengarungi lautan lepas
Menghadapi ombak badai (S07: Berlayar Denganku)

Monday, January 27, 2014

33

semoga menjadi pribadi yang lebih baik...semakin barokah di sisa umurnya...aamiin

Sunday, January 26, 2014

Menguji Hipotesis



*chat malam
1: Hi...
2: Eh, hi juga. Tumben malem-malem?
1: Gpp. Gi ngapain?
2: Ngerjain PR
1: Oh, iya. Anak sekolahan y? (winking)
2: Iya (blushing)
...bla, bla..
1: btw, gue dulu nolak elo, napa y? Hahaha...(big laugh)
2: hahaha...meneketehek. kan elo yg nolak. (big laugh)
1: hahaha... (big laugh)
...bla, bla..

*chat curhat
A: kenapa ya, susah bener nglupain doi?
B: eh, bukannya kamu yg maunya pisah? Jangan-jangan, kamunya memang ga mau.
A: mau. Banget!
B: trus? Beres kan?
A: ah, kamu nih! Klo beres, ngapain aku ngemeng.
B: move on dong neng. Ntar kena denda 500 rb lho
A: hah?
B: iya. Angkot tuh, yang sukanya ngetem, sekarang didenda 500rb.
A: hahahaha....
...bla, bla..

===
Dalam penelitian, khususnya matematika dan statistika, selalu saja ada hipotesis, yaitu jawaban sementara terhadap suatu masalah, yang masih perlu diuji kebenarannya. Hipotesis –bersama dengan perumusan masalah- seringkali menjadi logika awal yang membangun penelitian.

Karena masih bersifat sementara, maka hipotesis pun bisa: benar atau salah.

Saran saya, jangan sedih jika hipotesis salah, sehingga ditolak. Karena selalu ada sisi positif dari ditolak. Eh..eh..ini lagi ngomongin ditolak dalam konteks apa ya? Hayah...! hahaha... Maafken saya, ”mbelok” tanpa ngasih sign :D

Ga percaya? Masih sering ingat mantan atau seorang yang kamu tolak? Percayalah, seringkali yang diingat itu justru yang ditolak..

Masih ga percaya? Monggo hipotesis ini diuji ;)
**
Mau dikatakan apa lagi
Kita tak akan pernah satu
Engkau di sana, aku di sini
...
Di hati ini hanya engkau mantan terindah
Yang selalu kurindukan
...
Yang tlah kau buat
Sungguhlah indah
Buat diriku susah lupa
(mantan terindah, raisa)

Friday, January 17, 2014

Dusta

Ketika mulut ini mengatakan:
Ya, mau bagaimana lagi. Aku ikhlas, ini yang terbaik dari-Nya. Sebenarnya itu adalah dusta.
Ya sudah, kali memang begini jalan-Nya. Itu pun dusta.
Mungkin rejekinya baru ini, yo wis lah, Alhamdulillah. Ini juga dusta.

Jika memang benar ikhlas, nrimo dan legowo, maka semestinya tidak ada embel-embel: ya sudah, yo wis, dan frase-frase lain yang semakna itu. Karena dengan menyampaikannya, maka secara tidak langsung kita memberikan ruang pada ketidakikhlasan untuk ”tampil”. Dan kepasrahan yang kita tunjukkan ke dunia luar pun, tak lebih dari sebuah penenang hati, mung ngayem-ayem, dan mungkin (malah) keluhan (yang) terselubung.

Tapi, ini mending-lah, masih ada ”kadar ikhlasnya”, daripada tidak sama sekali. Namanya juga orang ’awam. Eh, bener ga sih?