Entah kebetulan atau bagaimana, tapi yang pasti roda nasib sepertinya menyeret saya untuk segera terbangun, sadar dan bergerak menjauh dari kebiasan buruk menunda-nunda pekerjaan.
==
RNI Stadium, Jakarta
Penunjuk waktu menunjukkan menit ke-22, ketika sebuah bola bergerak liar ke arah deep playmaker tim kuning, yang di partai sebelumnya memberikan sebuah assist indah. Sebuah kondisi yang membahayakan lawan karena pemilik nomor punggung 2 itu, kini, berdiri bebas dan hanya dipisahkan jarak 6 meter dari gawang. Dan, sebuah tendangan first time pelan, mengarah ke sudut akan menjadikan skor imbang 1-1! Sayangnya, itu tidak terjadi. Gara-garanya, pemain itu tidak melakukan first time tapi memilih untuk men-delay beberapa second, mencoba mengecoh kiper. Akibatnya, kesempatan emas itu pun terbuang percuma.
==
Sebuah blog
Seorang calon #1 writer menulis seperti ini: ”Prokrastinasi (= kebiasaan menunda-nunda) bisa menjadi semakin parah ketika kita tidak mampu mengendalikannya”
Ngga usah malu untuk masukin ini ke dictionary otak, lha wong ini emang patut di-add kok. Ato biar ngga keliatan ndheso banget, cukup mbatin kayak saya aja, ”Oh..ini toh istilah kerennya memending-mending (hahaha, ini namanya kawin nekat ala imbuhan me dengn pending!)”.
==
Mari kita berdayakan otak kiri kita!
(Rata-rata) dua pack seminggu. Jika satu pack berisi 16 batang, berarti sudah 24.576 batang rokok yang saya jejalkan asapnya ke paru-paru selama 8 tahun-an perjalanan karir merokok saya (hayah...!).
Itu tadi kalo dihitung per batang, jika dinominalkan –dengan asumsi per batang IDR 500- maka sudah IDR 12.288.000 yang saya ”tabung” di paru-paru.
Bayangkan IDR 12.288.000! Dengan duit ”segedhe” itu, saya sekarang ga perlu repot mikirin kredit Si Ega. Ga perlu juga ngowoh (bengong ga jelas plus putus asa plus ngarep yang tidak bisa diarep, red) ketika melihat Laptop. Pokoknya wuih tenan!
I DONT SMOKE ANYMORE! Sudah jalan, dan, hehehe, ketika ngetik ini, saya merasa lucu sekali, karena (untuk berhenti merokok) ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Cukup mengalahkan keinginan yang dipicu oleh kepala yang telanjur addicted dengan nikotin, pada malam pertama saat memutuskan untuk Stop Smoking, maka GAME OVER! Bye bye Cigarettes.
”Duh kok ya baru sekarang (nyadarnya)???"
**
Kurang dari 20 hari, Insya 4JJI, akan ada tabungan yang bisa dicairkan. Itu artinya, ada puluhan lembar rupiah bergambar Soekarno-Hatta yang bisa dimanfaatkan (untuk berbagai keperluan). Nah, mestinya senang dong? Tapi itulah, manusia memang selalu saja dipenuhi rasa ketidakpuasan. Kepala saya dipenuhi dengan pertanyaan,”Kok cuman segitu sih?”
Saya tidak mau dikatakan sebagai orang yang tidak/kurang bersyukur. Tapi, ya itu tadi,”Kok cuman segitu?” Setelah dirunut-runut, kesalahan memang ada di saya, ”Kenapa tidak dari dulu?”
Bayangkan, jika saya mulai menabung sejak 3 tahun lalu (sejak saya mulai bekerja), dengan nominal yang sama, maka tidak perlu memeras otak kiri untuk mendapatkan kesimpulan bahwa jumlah nominal tabungan akan (minimal) menjadi 3 kali lipat. Kenapa minimal? Ok, mari kita gunakan lebih dalam lagi kecerdasan analitik otak kiri. Dikatakan minimal karena dalam sistem perbankan ada faktor suku bunga (pada perbankan konvensional) atau bagi hasil (perbankan syariah). Adanya faktor ini dipastikan akan menjadikan nominal tabungan menjadi lebih besar daripada ditabung di bawah bantal. Dan karena tabungan yang dipakai adalah semodel tabungan berjangka maka dipastikan pula faktor suku bunga per tahunnya di atas rata-rata tabungan biasa. Belum lagi jika memperhitungkan bahwa tabungan berjangka tidak mengenal yang namanya biaya administrasi.
Jadi cukup jelas kan kalo saya”seolah-olah” menjadi sosok yang tidak/kurang bersyukur?
**
Saya berencana mengambil asuransi (kecelakaan/jiwa). Itu sudah terpikirkan sejak SK pegawai turun (2 tahun yang lalu). Pertimbangannya sederhana, jika terjadi apa-apa pada saya, maka tetap akan ada pasive income yang bisa menjamin kelangsungan hidup saya atau jika-katakanlah- saya meninggal, saya tidak akan merepotkan keluarga dalam mengurus biaya pemakaman. Atau juga – berandai-andai lagi - jika sudah berkeluarga, anak-istri saya tidak akan kelimpungan meneruskan hidup jika something bad happen to me!
Nyatanya, asuransi itu baru saya ambil akhir Juni kemaren. Saya terlalu asyik memelototi angka-angka yang ditawarkan beberapa produk asuransi, lupa bahwa makin lama saya mendaftarkan diri, maka preminya akan semakin tinggi dan insurance cover-nya juga menjadi ”tidak signifikan” lagi (terlebih jika memperhitungkan laju inflasi).
**
OK, sudah cukup perencanaan finansialnya, saatnya membuat hati ingat bahwa syukur itu penting!
Mulai dari something yang biasa sekali: Alhamdulillah, pagi tadi –maaf- buang air besar lancar. Selanjutnya, silakan Anda teruskan dan isi: (1) .... (2)....
==
Back to topik awal, tentang usaha menjauhi prokastinasi (asem ik, susah banget spelling-nya)
(Bekas) teman kuliah saya bercerita, melalui sms, bagaimana amazing pengalaman dirinya ketika melihat seorang ibu, yang juga (bekas) teman kuliah, menyusui her baby. Dalam benak saya, yang kemudian menjadi reply sms, terpikirkan bahwa sang ibu telah ngapling surga. Aseli, bikin iri! Ya iya lah, coba saja, ngapling sorga, bo! Hih....! Bikin gregetetan karena saya jelas-jelas ndak bisa nyusuin...! :P
Lhoh, kok jadi ngelantur ya? :D. Baiklah, begini lho...
==
RNI Stadium, Jakarta
Penunjuk waktu menunjukkan menit ke-22, ketika sebuah bola bergerak liar ke arah deep playmaker tim kuning, yang di partai sebelumnya memberikan sebuah assist indah. Sebuah kondisi yang membahayakan lawan karena pemilik nomor punggung 2 itu, kini, berdiri bebas dan hanya dipisahkan jarak 6 meter dari gawang. Dan, sebuah tendangan first time pelan, mengarah ke sudut akan menjadikan skor imbang 1-1! Sayangnya, itu tidak terjadi. Gara-garanya, pemain itu tidak melakukan first time tapi memilih untuk men-delay beberapa second, mencoba mengecoh kiper. Akibatnya, kesempatan emas itu pun terbuang percuma.
==
Sebuah blog
Seorang calon #1 writer menulis seperti ini: ”Prokrastinasi (= kebiasaan menunda-nunda) bisa menjadi semakin parah ketika kita tidak mampu mengendalikannya”
Ngga usah malu untuk masukin ini ke dictionary otak, lha wong ini emang patut di-add kok. Ato biar ngga keliatan ndheso banget, cukup mbatin kayak saya aja, ”Oh..ini toh istilah kerennya memending-mending (hahaha, ini namanya kawin nekat ala imbuhan me dengn pending!)”.
==
Mari kita berdayakan otak kiri kita!
(Rata-rata) dua pack seminggu. Jika satu pack berisi 16 batang, berarti sudah 24.576 batang rokok yang saya jejalkan asapnya ke paru-paru selama 8 tahun-an perjalanan karir merokok saya (hayah...!).
Itu tadi kalo dihitung per batang, jika dinominalkan –dengan asumsi per batang IDR 500- maka sudah IDR 12.288.000 yang saya ”tabung” di paru-paru.
Bayangkan IDR 12.288.000! Dengan duit ”segedhe” itu, saya sekarang ga perlu repot mikirin kredit Si Ega. Ga perlu juga ngowoh (bengong ga jelas plus putus asa plus ngarep yang tidak bisa diarep, red) ketika melihat Laptop. Pokoknya wuih tenan!
I DONT SMOKE ANYMORE! Sudah jalan, dan, hehehe, ketika ngetik ini, saya merasa lucu sekali, karena (untuk berhenti merokok) ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Cukup mengalahkan keinginan yang dipicu oleh kepala yang telanjur addicted dengan nikotin, pada malam pertama saat memutuskan untuk Stop Smoking, maka GAME OVER! Bye bye Cigarettes.
”Duh kok ya baru sekarang (nyadarnya)???"
**
Kurang dari 20 hari, Insya 4JJI, akan ada tabungan yang bisa dicairkan. Itu artinya, ada puluhan lembar rupiah bergambar Soekarno-Hatta yang bisa dimanfaatkan (untuk berbagai keperluan). Nah, mestinya senang dong? Tapi itulah, manusia memang selalu saja dipenuhi rasa ketidakpuasan. Kepala saya dipenuhi dengan pertanyaan,”Kok cuman segitu sih?”
Saya tidak mau dikatakan sebagai orang yang tidak/kurang bersyukur. Tapi, ya itu tadi,”Kok cuman segitu?” Setelah dirunut-runut, kesalahan memang ada di saya, ”Kenapa tidak dari dulu?”
Bayangkan, jika saya mulai menabung sejak 3 tahun lalu (sejak saya mulai bekerja), dengan nominal yang sama, maka tidak perlu memeras otak kiri untuk mendapatkan kesimpulan bahwa jumlah nominal tabungan akan (minimal) menjadi 3 kali lipat. Kenapa minimal? Ok, mari kita gunakan lebih dalam lagi kecerdasan analitik otak kiri. Dikatakan minimal karena dalam sistem perbankan ada faktor suku bunga (pada perbankan konvensional) atau bagi hasil (perbankan syariah). Adanya faktor ini dipastikan akan menjadikan nominal tabungan menjadi lebih besar daripada ditabung di bawah bantal. Dan karena tabungan yang dipakai adalah semodel tabungan berjangka maka dipastikan pula faktor suku bunga per tahunnya di atas rata-rata tabungan biasa. Belum lagi jika memperhitungkan bahwa tabungan berjangka tidak mengenal yang namanya biaya administrasi.
Jadi cukup jelas kan kalo saya”seolah-olah” menjadi sosok yang tidak/kurang bersyukur?
**
Saya berencana mengambil asuransi (kecelakaan/jiwa). Itu sudah terpikirkan sejak SK pegawai turun (2 tahun yang lalu). Pertimbangannya sederhana, jika terjadi apa-apa pada saya, maka tetap akan ada pasive income yang bisa menjamin kelangsungan hidup saya atau jika-katakanlah- saya meninggal, saya tidak akan merepotkan keluarga dalam mengurus biaya pemakaman. Atau juga – berandai-andai lagi - jika sudah berkeluarga, anak-istri saya tidak akan kelimpungan meneruskan hidup jika something bad happen to me!
Nyatanya, asuransi itu baru saya ambil akhir Juni kemaren. Saya terlalu asyik memelototi angka-angka yang ditawarkan beberapa produk asuransi, lupa bahwa makin lama saya mendaftarkan diri, maka preminya akan semakin tinggi dan insurance cover-nya juga menjadi ”tidak signifikan” lagi (terlebih jika memperhitungkan laju inflasi).
**
OK, sudah cukup perencanaan finansialnya, saatnya membuat hati ingat bahwa syukur itu penting!
Mulai dari something yang biasa sekali: Alhamdulillah, pagi tadi –maaf- buang air besar lancar. Selanjutnya, silakan Anda teruskan dan isi: (1) .... (2)....
==
Back to topik awal, tentang usaha menjauhi prokastinasi (asem ik, susah banget spelling-nya)
(Bekas) teman kuliah saya bercerita, melalui sms, bagaimana amazing pengalaman dirinya ketika melihat seorang ibu, yang juga (bekas) teman kuliah, menyusui her baby. Dalam benak saya, yang kemudian menjadi reply sms, terpikirkan bahwa sang ibu telah ngapling surga. Aseli, bikin iri! Ya iya lah, coba saja, ngapling sorga, bo! Hih....! Bikin gregetetan karena saya jelas-jelas ndak bisa nyusuin...! :P
Lhoh, kok jadi ngelantur ya? :D. Baiklah, begini lho...
- Ndak apa-apa telat. Kalo ditanya otak kiri, ”Halooo..kemana aja selama ini?” Jawab aja pake alter ngeles, ”Better late than never” :D
- Ndak apa-apa juga kalo memang punya bawaan orok sebagai prokastinator (aseli ini istilah ngawur, gara-gara terinspirasi ama spam email yang berisi alat-alat berakhiran ”or” :D ), yang penting, kudu sadar bahwa ngga semua bawaan orok itu pas dijadikan bawaan gedhe (hayah, apalagi coba?).
- Yang terpenting: Sesuatu yang ”terlalu” itu tidak baik. Nah, salah satunya adalah terlalu berteori. So, berhentilah berteori, dan, Do It!
No comments:
Post a Comment