Tuesday, December 29, 2020

pejuang sejati

Aku hanya diam saja. Setengah berjongkok menemaninya. Jari-jari yang sudah berkeriput itu nampak bergetar. Nampak di pangkuannya beberapa butir nasi yg tidak sempurna masuk ke mulutnya. Setelah beberapa suap, Beliau berhenti. Diteguknya air mineral yg tinggal separuh. Setelahnya, Beliau tak lagi melanjutkan makan siang. Nasi bungkusnya masih setengah, diikat kembali. "Buat nanti lagi Mas", katanya.

Suparjo. Itu kata yg kudengar ketika kutanya namanya. Aq jg tidak begitu yakin krn suaranya tdk begitu terdengar jelas. Yang nampak jelas, beliau adalah salah satu figur pejuang sejati yg pernah kutemui. Dari pagi beliau berjalan kaki berkilo-kilometer menggendong lincak. Kursi panjang dari bambu, yg aq sendiri engga yakin bakal kuat buat ngangkat.

Beliau memilih berjualan karena tak mau menggantungkan hidup pada orang lain. "Nek kesel, kulo njih leren. Mangke mlampah maleh", katanya sambil menyandarkan punggung di dinding beringin alun². Menikmati teduh. (mt)

tentang amanah dan rizki yang baik dan halal

Suara announcer di stasiun pekalongan dan hawa dingin di kaki membangunkanku. Kutengok jam tanganku, 01.00. Masih sejaman sebelum Argo Anggrek sampai di Tawang. "Bakalan lama nih!" batinku. Aku sudah sangat lelah. Perjalanan Jepara-Jakarta bolak-balik bener² menguras energi. Dua malam aku tidur di atas "roda". Kemarin di bis malam, malam ini, kereta.


Kupejamkan kembali mataku, berharap bisa tidur lagi. Gagal. Hawa dingin terasa menusuk. Entah sejak kapan Argo tak lagi menyediakan selimut buat penumpangnya. "Kampret nih Kopet, nyusahin aja"! rutukku dalam hati. Akhirnya, sejaman itu kuhabiskan dengan main sudoku sambil sesekali stretching, jalan dari gerbong ke gerbong.

Tepat 02.08, keretaku sampai di Tawang. Bergegas aku turun. Di pintu ke luar tiga orang sopir taksi menyambutku, menawarkan jasa. Kugelengkan kepala, "Sampun pesen travel Pak". Di pintu keluar kuedarkan pandangan, tujuanku satu: warung kopi. Tapi hanya gelap yang kuliat. Sepi. 

Masih 2,5 jam sebelum travel menjemput. Badan yg sudah sangat lelah menuntunku ke masjid di dekat pintu masuk. Disana kutemui bbrp orang yg lelap. Sesekali ada yg menggerakkan tangan, mengusir nyamuk² atau sekedar membetulkan posisi tidur. Aku, yg sebelumya hanya berniat nyender, akhirnya ikut lelap berbantal ransel.

Rasanya baru sekejap memejamkan mata ketika aku terbangun. Tepukan halus di pundak dri penjaga masjid membangunkanku. Kulihat jam tanganku, 03.15. Suara sholawat tarhim terdengar. Sebentar lagi subuh.

Bergegas aku bangun, mengambil wudhu. Sholat 2 rekaat dan membaca Quran sambil menunggu adzan. Baru satu makra', terdengar langkah-langkah cepat. Ternyata tukang becak yg biasa mangkal di deket pintu masuk sudah bersiap untuk berjamaah shubuh

Selese adzan, tukang becak yg tadi kuliat nampak mendekat ke arah mic. Ternyata, dia orang yg dipercaya untuk melantunkan puji²an sekaligus iqomat. Pujian yg dilantunkannya sungguh indah. Sebuah nasehat tentang kehidupan abadi di akhirat. Bahwa bekal yg hakiki setelah nyawa dicabut adalah amal saleh, bukan harta, pangkat, ataupun jabatan. Pujian klasik yg dilantunkan dalam bahasa Jawa.

Lepas shubuh, aku beringsut keluar masjid. Menunggu travel di deket pintu masuk stasiun tawang. Kutemui tukang becak yg tadi melantunkan puji²an. Beliau sudah berganti seragam. Peci berganti topi. Sarung dilepas menjadi celana 3/4. "Becak Mas, badhe ten pundi?" ucapnya ramah ketika melihat aku mendekat. "Mboten Pak, nenggo travel" jawabku sambil izin ikut duduk di dekat becaknya.

Lalu, kami pun ngobrol. Pak Sutarmin, begitu beliau menyebut namanya, ternyata dri Jepara, tepatnya di Rengging. "Wah, sampun jaman sepur kayu mas, kulo ten mriki" jawabnya ketika kutanya sudah berapa lama mangkal. Mengalir beliau bercerita, tentang beliau yg putus sekolah sejak kelas 3 SD. Tentang kesulitan bekerja di desa karena tidak mempunyai lahan. Tentang becak² yg dlunya pernah jaya, bahkan ada paguyuban, tpi kemudian mulai kalah dengan adanya ojek online. "Sak niki tinggal 4 mas, termasuk kulo", katanya sambil menunjuk lokasi becak² yg tersisa.

Hebatnya, tak ada nada mengeluh ataupun menyalahkan keadaan dari suaranya. "Rezeki niku sampun diatur mas. Tugas kulo, iktiyar. Usaha sing sae tur halal kersane rejekine ugi sae lan halal. Kulo niku mpun dicukupke Gusti Alloh. Wong misale kulo diparingi kathah njih dereng mesti cukup mas", urainya panjang tanpa ada maksud menggurui.

Aku manggut² mendengarkan. Meresapi satu lagi pelajaran hidup yg "mahal". Pada saat² seperti inilah aku merasa bhw banyak dri diriku yg perlu diperbaiki. Mungkin halal, tpi apakah yg kudapatkan baik? Seringkali aku mendapatkan sesuatu yg sebenernya tidak layak dan "pas" untuk diterima. Hanya "haha, hihi",  melancong kesana kemari, bahkan kadang kurasa lebih layak disebut liburan bukan dinas, tpi dibayar dengan uang pajak rakyat. Halal, iya, tapi sungguh jauh dri kata baik. Ya Alloh. Astaghfirullohal 'adhiim..

Saat itu juga aku merasa bahwa sungguh jabatan adalah amanah yg berat. Banyak orang² seperti Pak Sutarmin² yg mestinya hidup lebih baik. Diangkat derajat kesejahteraannya dengan kebijakan yg berpihak pada rakyat. Tidak terbayang nanti di Yaumul Hisab jika ditanyakan untuk apa jabatan yg diamanahkan. Ya Alloh, Ya Robbanaaa.. khaasibnii khisaaban yasiiroo..

Ingin rasanya aku mendengarkan lebih banyak cerita dri beliau, tapi pembicaraan kmi terhenti. Telpon dri travel mengingatkan agar aku bersiap. Dan benar, tak sampai 5 menit, Hi-Ace warna putih sdh terlihat. Aku bergegas menaikkan ransel. Kusalami beliau. Apa yg kuselipkan pd saat kami bersalaman, sungguh jauh dari apa yg kudapatkan dari beliau. Matur nuwun Bapak.

Saestu, kulo Matur nuwun. Mugi Alloh Ta'ala tansah paring berkah, rezeki tetep iman islam, kesehatan, dan keselametan kagem njenengan. Aamiin. (mt).

Friday, October 2, 2020

self reminder

Jika kita digaji "pemilik" kantor, tpi di jam kantor lebih banyak ngerjain hal² pribadi dan/atau bukan kerjaan kantor, dan ngerasa bahwa yg kita lakukan itu baik² saja. Apakah gaji yg kita terima adl termasuk rejeki yg thoyyib?


#selfReminder

Rengginang ErKa

Tersebutlah di negeri pelangi, sebuah catering yg sangat terkenal. Namanya Catering Mbak Vega. Tpi, orang lebih mengenalnya dengan nama ErKa. Nama yg melekat sesuai dengan nama produk unggulannya: Rengginang ErKa.


Seperti biasa, di bulan Mei dan Juni, pesanan Rengginang ErKa meningkat dibanding bulan² lain. Mei dan Juni memang bulan² yg spesial di Negeri Pelangi krn di bulan² inilah banyak desa yg mengadakan ritual Tabur Rengginang. Ritual suci agar desa mendapatkan limpahan berkah dari para Dewa².

Sore itu kesibukan nampak di Catering Mbak Vega. Tumpukan rengginang nampak berjejer rapi. Beberapa karyawan memasukkan rengginang² itu ke bungkusan plastik. Mereka memasukkannya dengan hati² agar tidak rusak.

Tiba², terdengar suara Mbak Vega, "Stop! Pesenan rengginang batal, ganti Kerupuk Tengiri". Karyawan² itu nampak panik. Satu orang berdiri sambil berkata, "Maaf Mbak, tapi kita g ada waktu buat bikin Kerupuk Tengiri. Pesen juga udah ga bisa."

Mbak Vega terhenyak. Tapi sejurus kemudian dia tersenyum, "Kalo plastik Kerupuk Tengiri, kita masih ada stoknya kan?"
"Oh, klo kantongnya aja, kita ada Mbak", jawab karyawan itu.
"Yawis, ganti bungkus rengginang dengan plastik Kerupuk Tengiri" kata Mbak Vega lagi. "Udah, ga usah dibuat ribet, toh pelanggan kita ga tau bedanya Rengginang ama Kerupuk Tengiri", lanjut Mbak Vega seakan memahami kebingungan para karyawannya.
"Siap Mbak!" jawab serentak para karyawan.

Sang asisten, yg dri tadi diam di samping Mbak Vega, tersenyum, sambil berbisik, "Brarti kayak pesenan Kripik Bawang kemarin ya?".
"Yoi! Kayak g ngerti aja!" jawab Mbak Vega sambil mengunyah rengginang yg renyah itu.

Begitulah, apapun pesenannya, rengginang ErKa-lah yg akan disajikan. Isi sama, bungkusnya saja yg berbeda.. (mt)

(Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian, dan/ataupun cerita itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan)

insting

"Nuruti corona, ora nguntal Mas!". Kalimat itu diucapkan seseorang ketika kami ketemu, antri cukup lama di bengkel. Jika itu terdengar kasar, maka njenengan semua harus dengar kata² seseorang yg pernah sy jumpai di suatu tempat yg tak mungkin sy sebutkan di sini. "Corona ki Ndobol! Doktere ora iso dipercoyo. Loro maag yo corona, DBD yo corona, jantung yo corona. Opo² kok Corona. Wingi jare sing nduwe mebel ya corona, jebule kleru. Sing dodol sego goreng, yo kleru. Wis biasa ae.!"


Begitulah, sudah lebih 3,5 bulan pandemi covid-19 melanda dan menghantam hampir semua aspek. Belum ada kepastian kapan ini akan berakhir. Padahal banyak hal tidak bisa menunggu, terutama urusan perut. Maka, berlakulah "hukum alam". Selain rasa takut, manusia juga dibekali Gusti Alloh insting untuk beradaptasi dan bertahan hidup. Ketika naluri utk bertahan hidup melampaui batas ketakutan, ya begitulah. Rasa takut pelan² akan hilang karena ada batas rasa bosan pada rasa takut. Dan ini juga sejalan dengan kondisi psikologis yg dominan berkembang di masyarakat bahwa selama tidak ada korban yg berjatuhan di depan mata langsung, maka proses hilangnya rasa takut akan semakin cepat. 

Data² kenaikan yg positif dan meninggal pun ndak berarti apa². Karena itu semua "jauh". Tidak di depan mata dan tidak jadi bahan obrolan sehari². Yg diinget adalah "Opo² kok Corona". Yg diobrolkan adalah "kesalahan diagnosis (atau pemberitaan?)" pada 2 dari ratusan kasus tersebut.  Psikologis ini layaknya hipotesis. Yg ditolak justru yg diingat dan dicari.

Sy ndak tau mesti mbales ngomong apa ke temen ngobrol tadi. Menurut sy, apa yg disampaikannya tidak salah, tapi bukan berarti benar dan bs jadi pembenaran. Sy jg tdk punya solusi konkret untuknya. Sy hanya bisa nitip pesen, "Tetep sehat dan semangat Pak. Monggo makaryo, tpi nyuwun sewu, ampun kesupen ngagem masker, jaga jarak dan rajin² cuci tangan njih. Mugi² Alloh Ta'ala paring kesehatan dan keselamatan untuk kita semua. Segera diangkat wabah ini"... (mt)

Best Partner

Jika Anda pecinta bola, maka Anda pasti tau N'Golo Kante. Pekerja keras yg tak banyak bicara. Statistiknyalah yg berbicara. Dia tak hanya menjadi benteng pertama sebelum pemain lawan berhadapan dengan barisan pertahanan, tapi sekaligus perusak permainan lini tengah lawan. Intersepnya seringkali menjadi titik awal counter attack yg mematikan. Kemampuan read the game and covering area-nya sempurna. Sebegitu hebatnya sampai ada ungkapan, "70% bumi ditutup air, sisanya oleh Kante".


Aku, kenal satu orang dengan tipikal seperti Kante. Pekerja keras yg memilih menghindari sorotan cahaya. Duduknya selalu di barisan pinggir bahkan seringkali jauh ke belakang. Padahal, dialah pemain utamanya.

"Aku kan ga lapo²". Itu kalimat andalan yg sering dia katakan tiap kali ada yg memuji kinerjanya. Tapi semua orang tau, "dia orangnya". Dialah yg menutup hampir semua "lubang" yg ada (dlm pekerjaan kmi). Tanpa dia, "kapal" kmi mungkin sudah karam, entah dari kapan taun.

Selamat bertugas di tempat pengabdian baru Bu Kepala Staf. Bismillah. Sepenuh hati aku percaya kamu amanah. Mugi² tansah pinaringan kesehatan, keselamatan, dan kelancaran. Sukses selalu. Barokallah.. (mt)

Wednesday, September 23, 2020

belajar bersyukur

Lebih dari 2 dasawarsa tidak berjumpa, nyaris tak ada yg berubah darinya. Kami, teman satu SMP. Bukan teman dekat, jika pertemanan itu diartikan dengan luntang-luntung bareng ato sekedar nongkrong selepas sekolah. Kami dekat karena dia adalah tandem di lapangan bola.


Jagong, ditemani kopi, sore itu, mengajarkan kepadaku bahwa ada banyak hal yg patut untuk disyukuri. Jagong kami mengingatkanku pada cerita kertas putih yang terkena noktah kecil. Aku terlalu fokus pada noktah, sementara dia melihat lebih banyak bagian yg putih bersih. 

Aku, belajar banyak darinya. Terima kasih kawan.

tentang kopi


Duduk, membersihkan meja-kursi, menghidupkan laptop, berdoa, kemudian menyeduh kopi. Itu rutinitas pagi di kantor. Kali ini saya akan bercerita tentang kopi. Pas, apalagi jelang musim hujan seperti saat ini.

Saya menikmati setiap momen ketika menyecap pait-manis kopi panas. Ini beberapa momen yang saya rasakan ketika menikmati secangkir kopi:

"Kopi. Aromanya memeluk tubuh. Menghapus kisah pahit yang datang bersama hujan pagi ini... "

"Kopi. Hangatnya menyesap dingin hujan."

"Marilah, kemarilah. Secangkir kopi dan setangkup rindu menanti.."

"Kopi. Aromanya mengurung rindu."


note: iya, i know.. itu memang cangkir souvernir manten 😀



 

Menulis Lagi

Enam tahun tentu bukan waktu yang pendek. Tapi itu adalah waktu yang saya habiskan untuk tidak menulis di blog ini. Ada banyak alasan yang bisa disampaikan, tapi sepertinya kata "Malas" menjadi ujungnya.

Awalnya, malas itu hanya sebatas membuka blog karena saya sudah mempunyai aplikasi note di HP. Tapi kemudian berkembang menjadi malas menulis. Sibuk, menjadi alasan cliche-nya.

So, seperti coretan-coretan yang sering saya sampaikan ketika kembali menulis setelah vakum lama, maka inilah beberapa tulisan yang akan sy publish. Bukan coretan baru, tapi hanya menyalin tempel dari yang note saya.

Enjoy!  

Sunday, June 8, 2014

Perpisahan yang Indah


Tak harus dengan air mata. Kalaupun (mesti) ada, tak harus berkepanjangan. Perpisahan yang indah. Itu pesannya..
---
Flock of birds
Hovering above
Just a flock of birds
That's how you think of love

And I always look up to the sky
Pray before the dawn
Cause they fly always
Sometimes they arrive
Sometimes they are gone
Fly on

Flock of birds
Hovering above
Into smoke I'm turned and rise, following them up
Still I always look up to the sky
Pray before the dawn
Cause they fly away
One minute they arrive
Next you know they're gone
Fly on

Fly on, ride through
Maybe one day I'll fly next to you
Fly on, ride through
Maybe one day I can fly with you
Fly on


(O by Coldplay, Ghost Stories)

ps: 
A: lagunya Coldplay banget. Aku prefer "Fix You"
B: hahaha. Fix You tuh yang Coldplay banget. Ini ada album terbaru Coldplay. Setelah Chris-Gwyn Pisah
A: Oh, ok.

KULIAH (lagi), Chapter 4: 1st Semester



(lanjutan chapter 1, 2 dan 3)

Selasa, 22 Oktober 2013. Semester 1 dimulai. The real game is begin. Mulai hari ini, setiap mata kuliah harus didalami dengan serius. Nda bisa lagi leyeh-leyeh ala matrikulasi. Maklumlah, mulai semester ini, nilai mata kuliah akan masuk ke transkrip nilai. Secara, jika ALLAH Ta’ala mengijinkan, saya berniat untuk melanjutkan ke jenjang S3, maka mendapat nilai yang sangat-sangat memuaskan is a must.

Saudara, sidang pembaca yang terhormat, inilah kwartet cinta yang harus saya kuasai di semester I: ekonomika mikro II, ekonomika makro II, ekonomika pembangunan, dan ekonometrika. Karena makro ama mikro uda pernah kenalan, maka sekarang, saya cukup ngenalin ekonomika pembangunan dan ekonometrika.

First, Economic Development. Kalo kata Pak Todaro, ini adalah study of how economies are transformed from stagnation to growth and from low income to high income status, and overcome problems of absolute poverty (Todaro and Smith, 2012:8). Development Economics has an event greater scope. Saking greater-nya saya ngerasa kalo ini ilmu adalah ilmu campur-campur. Meski demikian, tidak bisa dipungkiri inilah ”si Jali-Jali” karena Ekonomika Pembangunan adalah basis ilmu untuk konsentrasi Perencanaan Pembangunan Daerah –konsentrasi yang saya ambil- di MEP UGM. Jadi, kudu bisa!

Second, Econometrics. Literally it means economic measurements. Ada seni dan (pastinya) analisis yang dicakup oleh econometrics. Ketika Prof Tri Widodo memperlihatkan buku pegangannya, saya baru ngeh kalo di semester 1, saya baru dapat basic econometrics. Batin saya, ”Ya ALLAH, basic-nya aja begini apalagi advance-nya ya?.” Smangkaa..d!

==
Episode Mid Exam
Praktis, di luar econometrics, mid exam adalah episode dimana saya dituntut untuk ”mengarang indah”. Fyuh, benar-benar i’m not sure about the result. Bismillah..

==
Episode Final Exam
Di Final Exam, saya ketemu dengan yang namanya take home exam. Saudara sebangsa setanah air, ini adalah ”jebakan betmen.” Terlihat mudah, tapi justru yang paling susah. Tidak hanya materinya, namun juga waktunya yang mepet, membuat take home exam menyedot konsentrasi lebih, padahal masih ada 3 mata kuliah lain –yang tidak kalah penting. Lessons learned-nya, take home exam OK, jika memang materinya sudah jelas dari awal perkuliahan. Jika sudah tinggal seminggu dari hari H ujian, mendingan di-nego: ganti dengan ujian tertulis di kelas aja.

Tuesday, April 15, 2014

Jakal the Jagal?



Wuih, waktu memang berkelebat dengan cepat dan Maret adalah bulan yang sibuk. Sempurna sebagai sebuah alasan untuk tidak menulis ;)

Enough. Time to write again. Ini pun nyolong-nyolong. Semester 3 ini, bener-bener deh! Tanpa basa basi, semua dosen dengan senyum tersungging mengirim badai tugas. Satu quote yang saya ”demen banget” dengernya, ”Liburan, mudik? Kuno!” dilanjutkan dengan ”Udah pesen tiket? Batalin!”  Maka, saya –dan teman sekelas- pun liburan semester 2 dengan membawa tugas. Keadaan kahar memaksa ada satu mata kuliah yang dilanjutin ke semester 3, meskipun semester 2 sudah selesai. Fyuh..!

Eh, ngemeng-ngemeng, saya masih belum upload yang cerita semester 1 ya? Sabar ya. Udah ready kok tinggal nunggu release-nya aja. Ini saya mau nulis satu hal menarik dan rada serius. Jarang-jarang kan saya nulis serius :D
--

Gersang dan mematikan. Itulah gambaran yang saya dapatkan pada ruas jalan ini. Siang hari, gelombang motor dan mobil berebut tempat. Kala malam mulai sedikit larut, deru kuda-kuda besi yang melewatinya, mengingatkan saya pada sebuah sirkuit. Raungan sirine ambulance yang rutin wira-wiri (ke dan dari RSUP Sardjito) menguatkan aura mematikan jalur ini.

JAKAL. Itu nama ruas jalan ini. Akronim keren dari Jalan Kaliurang. Terbentang sepanjang ±30 km, JAKAL adalah salah satu ruas jalan vital di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Sayangnya, JAKAL tidak sekeren namanya. Setidaknya ada dua sisi gelap darinya, terutama pada penggal KM. 4,5 (perempatan Magister Manajemen UGM) sampai dengan Km 6 (Ring Road Utara).

Sisi gelap pertama: gersang. Nyaris tak ada pohon di sepanjang jalan ini. Palem-palem dalam pot semen ukuran ±50 cm, dibiarkan layu. Mati. Kala siang sedang terik, ruas jalan ini laksana Jalur Gaza: panas dan kering.

Sisi gelap kedua: mematikan. Tak sekali saya melihat kecelakaan di ruas jalan ini. Dalam 3 hari ini saja, tepat di depan mata, saya melihat dua kali sepeda motor ndlosor. Sekali, di malam hari di dekat Bank Bukopin, ketika sebuah mobil dengan suksesnya memaksa seorang bapak tua pesepeda motor mencium aspal jalanan. Lainnya, ketika seorang ibu –yang sedang membonceng anak balitanya- ditabrak pesepeda motor di depan Toko Cahaya, sekira 50 m dari lampu merah MM UGM.

Sisi mematikan lainnya adalah ketiadaan tempat penyeberangan. Tidak usah bicara tentang jembatan penyeberangan, zebra corss-pun nyaris tidak ada. Para pejalan kaki dipaksa bertaruh nyawa setiap kali hendak menyeberang. Hih...!

Selesai menulis paragraf diatas, somehow, saya tiba-tiba teringat pada Film Jagal: The Act of Killing. Jakal the Jagal? Semoga tidak!

Monday, April 7, 2014

Jokowi for President?




Jokowi telah menjadi sebuah fenomena. Masyarakat mengelu-elukannya. Media? Tak usah ditanya lagi. Setiap gerak langkahnya adalah berita. Dia: media darling.

Ketika menulis ini saya iseng mengetikkan Jokowi di search engine Google. Hasilnya: 17 jutaan berita dalam 0.25 detik. Jauh melewati Megawati yang ”hanya” 4.21 jutan dan Prabowo Subianto yang mencapai 1.888 jutaan. Angka ini hanya kalah oleh SBY yang mencapai 19.4 juta-an. Namun yang menarik, ketika ditulis Joko Widodo, angkanya tetap tinggi, mencapai 11.8 jutaan, mengalahkan Susilo Bambang Yudhoyono (2.96 jutaan). Angka-angka ini –meskipun masih sangat basic- menjadi pembenar bahwa dalam kancah perpolitikan nasional, Jokowi is Indonesia’s Rising Star.

Saya pribadi melihat Jokowi sebagai sosok yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa darinya. Bahkan sempat, pada satu titik saya merasa bahwa media terlalu lebay memberitakannya. Menurut saya, Jokowi hanya melakukan tugasnya. Dia melakukan apa yang memang seharusnya seorang pemimpin lakukan. Tidak lebih dan tidak kurang.

Ya, dalam perspektif pribadi saya, Jokowi hanya melakukan simple thing : mengambil keputusan. Meski demikian, tidak bisa dielakkan bahwa simple thing itu tidak lagi sesuatu yang simple, namun telah menjadi big thing. Thus, bagi orang-orang yang ”sadar”, keberadaan Jokowi menjadi sebuah symptom: kerinduan masyarakat akan pemimpin yang mau melakukan pekerjaan apa yang seharusnya seorang pemimpin lakukan.

Pada titik ini, saya kemudian berbalik arah, menjadi seseorang yang meyakini bahwa Indonesia memerlukan pemimpin daerah dengan spirit Jokowi –dengan asumsi bahwa Jokowi yang ada di layar kaca bukanlah aktor yang sedang berakting dengan apik dalam sebuah opera sabun berjudul blusukan. Pada titik ini pula saya termasuk orang memutuskan untuk tidak memilih Jokowi sebagai Presiden –jika memang kemudian dia benar-benar masuk dalam Capres pada Pilpres 2014 nanti.

Menurut saya, jika model desentralisasi saat ini tidak berubah, dimana kewenangan banyak yang berpindah ke Bupati/Walikota, sementara peran Gubernur –kecuali Gubernur DKI, yang diberi kewenangan memilih dan mengangkat Walikotanya- ”tak lebih dari sekedar koordinator,” maka pemimpin dengan gaya blusukan dan langsung mengambil di lapangan, jauh lebih diperlukan pada tingkat kabupaten/kota. Masyarakat di tingkat kabupaten/kota lebih membutuhkan model pemimpin ini. Ada jarak yang terlalu jauh antara (keputusan) Presiden dengan masyarakat di level desa.

Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa Jokowi perlu menjadi Presiden agar bisa menjadi role model bagi pemimpin daerah lainnya. Menurut saya, itu tidak perlu. Jika memang perlu role model, tinggal tengok TV atau berita saja. Kurang apa coba media memberitakannya?
Dalam kondisi transisi menuju pemerintahan yang melayani, masyarakat di level bawah (kabupaten/kota) perlu pemimpin yang bisa hand in hand, setiap saat hadir di tengah-tengah mereka. Dan itu ada di level Bupati/Walikota, bukan Presiden.

Alasan lainnya adalah biarlah Jokowi (dan Ahok) berkonsentrasi menata Jakarta. Menyelesaikan masa baktinya. Jika ada yang mengatakan bahwa Jokowi akan kehilangan momentum, maka itu ada benarnya. Politik memang seringkali ditentukan oleh suatu momentum. Namun, saya meyakini bahwa seperti halnya kesempatan, momentum bukanlah sesuatu yang hanya datang sekali dan harus ditunggu hadirya. Momentum bisa diciptakan dan akan menghampiri orang yang bersungguh-sungguh berusaha. Dan itu juga berlaku untuk Jokowi. Dengan performance yang baik dan konsisten (dalam menata Jakarta), melihat foto Jokowi terpasang di tiap-tiap dinding kelas dan kantor hanyalah masalah waktu saja.
--

Sunday, March 2, 2014

Di Sudut Rumah Sakit..




Mendampingimu dan berada di sisimu adalah sebuah kebanggaan dan kebahagiaan yang tidak akan kutukar dengan apapun yang ada di dunia ini. Maka, jika engkau berjerawat, gendut dan menua, ada satu hal yang tak perlu kau risaukan: hadirku di sisimu.

Hei...ada sebuah pesan indah. Seorang teman mengirimnya, tentang mensyukuri apa yang kita punya.

Bangunlah. Aku, mencintaimu. Sepenuh hati..