Monday, August 13, 2007

(another episode of) Bodoh dan Sakit

Entah kebetulan atau bagaimana, tapi yang pasti roda nasib sepertinya menyeret saya untuk segera terbangun, sadar dan bergerak menjauh dari kebiasan buruk menunda-nunda pekerjaan.
==
RNI Stadium, Jakarta
Penunjuk waktu menunjukkan menit ke-22, ketika sebuah bola bergerak liar ke arah deep playmaker tim kuning, yang di partai sebelumnya memberikan sebuah assist indah. Sebuah kondisi yang membahayakan lawan karena pemilik nomor punggung 2 itu, kini, berdiri bebas dan hanya dipisahkan jarak 6 meter dari gawang. Dan, sebuah tendangan first time pelan, mengarah ke sudut akan menjadikan skor imbang 1-1! Sayangnya, itu tidak terjadi. Gara-garanya, pemain itu tidak melakukan first time tapi memilih untuk men-delay beberapa second, mencoba mengecoh kiper. Akibatnya, kesempatan emas itu pun terbuang percuma.
==
Sebuah blog
Seorang calon #1 writer menulis seperti ini: ”Prokrastinasi (= kebiasaan menunda-nunda) bisa menjadi semakin parah ketika kita tidak mampu mengendalikannya”

Ngga usah malu untuk masukin ini ke dictionary otak, lha wong ini emang patut di-add kok. Ato biar ngga keliatan ndheso banget, cukup mbatin kayak saya aja, ”Oh..ini toh istilah kerennya memending-mending (hahaha, ini namanya kawin nekat ala imbuhan me dengn pending!)”.
==
Mari kita berdayakan otak kiri kita!
(Rata-rata) dua pack seminggu. Jika satu pack berisi 16 batang, berarti sudah 24.576 batang rokok yang saya jejalkan asapnya ke paru-paru selama 8 tahun-an perjalanan karir merokok saya (hayah...!).
Itu tadi kalo dihitung per batang, jika dinominalkan –dengan asumsi per batang IDR 500- maka sudah IDR 12.288.000 yang saya ”tabung” di paru-paru.
Bayangkan IDR 12.288.000! Dengan duit ”segedhe” itu, saya sekarang ga perlu repot mikirin kredit Si Ega. Ga perlu juga ngowoh (bengong ga jelas plus putus asa plus ngarep yang tidak bisa diarep, red) ketika melihat Laptop. Pokoknya wuih tenan!
I DONT SMOKE ANYMORE! Sudah jalan, dan, hehehe, ketika ngetik ini, saya merasa lucu sekali, karena (untuk berhenti merokok) ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Cukup mengalahkan keinginan yang dipicu oleh kepala yang telanjur addicted dengan nikotin, pada malam pertama saat memutuskan untuk Stop Smoking, maka GAME OVER! Bye bye Cigarettes.
”Duh kok ya baru sekarang (nyadarnya)???"
**
Kurang dari 20 hari, Insya 4JJI, akan ada tabungan yang bisa dicairkan. Itu artinya, ada puluhan lembar rupiah bergambar Soekarno-Hatta yang bisa dimanfaatkan (untuk berbagai keperluan). Nah, mestinya senang dong? Tapi itulah, manusia memang selalu saja dipenuhi rasa ketidakpuasan. Kepala saya dipenuhi dengan pertanyaan,”Kok cuman segitu sih?”
Saya tidak mau dikatakan sebagai orang yang tidak/kurang bersyukur. Tapi, ya itu tadi,”Kok cuman segitu?” Setelah dirunut-runut, kesalahan memang ada di saya, ”Kenapa tidak dari dulu?”
Bayangkan, jika saya mulai menabung sejak 3 tahun lalu (sejak saya mulai bekerja), dengan nominal yang sama, maka tidak perlu memeras otak kiri untuk mendapatkan kesimpulan bahwa jumlah nominal tabungan akan (minimal) menjadi 3 kali lipat. Kenapa minimal? Ok, mari kita gunakan lebih dalam lagi kecerdasan analitik otak kiri. Dikatakan minimal karena dalam sistem perbankan ada faktor suku bunga (pada perbankan konvensional) atau bagi hasil (perbankan syariah). Adanya faktor ini dipastikan akan menjadikan nominal tabungan menjadi lebih besar daripada ditabung di bawah bantal. Dan karena tabungan yang dipakai adalah semodel tabungan berjangka maka dipastikan pula faktor suku bunga per tahunnya di atas rata-rata tabungan biasa. Belum lagi jika memperhitungkan bahwa tabungan berjangka tidak mengenal yang namanya biaya administrasi.
Jadi cukup jelas kan kalo saya”seolah-olah” menjadi sosok yang tidak/kurang bersyukur?
**
Saya berencana mengambil asuransi (kecelakaan/jiwa). Itu sudah terpikirkan sejak SK pegawai turun (2 tahun yang lalu). Pertimbangannya sederhana, jika terjadi apa-apa pada saya, maka tetap akan ada pasive income yang bisa menjamin kelangsungan hidup saya atau jika-katakanlah- saya meninggal, saya tidak akan merepotkan keluarga dalam mengurus biaya pemakaman. Atau juga – berandai-andai lagi - jika sudah berkeluarga, anak-istri saya tidak akan kelimpungan meneruskan hidup jika something bad happen to me!
Nyatanya, asuransi itu baru saya ambil akhir Juni kemaren. Saya terlalu asyik memelototi angka-angka yang ditawarkan beberapa produk asuransi, lupa bahwa makin lama saya mendaftarkan diri, maka preminya akan semakin tinggi dan insurance cover-nya juga menjadi ”tidak signifikan” lagi (terlebih jika memperhitungkan laju inflasi).
**
OK, sudah cukup perencanaan finansialnya, saatnya membuat hati ingat bahwa syukur itu penting!
Mulai dari something yang biasa sekali: Alhamdulillah, pagi tadi –maaf- buang air besar lancar. Selanjutnya, silakan Anda teruskan dan isi: (1) .... (2)....
==
Back to topik awal, tentang usaha menjauhi prokastinasi (asem ik, susah banget spelling-nya)
(Bekas) teman kuliah saya bercerita, melalui sms, bagaimana amazing pengalaman dirinya ketika melihat seorang ibu, yang juga (bekas) teman kuliah, menyusui her baby. Dalam benak saya, yang kemudian menjadi reply sms, terpikirkan bahwa sang ibu telah ngapling surga. Aseli, bikin iri! Ya iya lah, coba saja, ngapling sorga, bo! Hih....! Bikin gregetetan karena saya jelas-jelas ndak bisa nyusuin...! :P
Lhoh, kok jadi ngelantur ya? :D. Baiklah, begini lho...
  1. Ndak apa-apa telat. Kalo ditanya otak kiri, ”Halooo..kemana aja selama ini?” Jawab aja pake alter ngeles, ”Better late than never” :D
  2. Ndak apa-apa juga kalo memang punya bawaan orok sebagai prokastinator (aseli ini istilah ngawur, gara-gara terinspirasi ama spam email yang berisi alat-alat berakhiran ”or” :D ), yang penting, kudu sadar bahwa ngga semua bawaan orok itu pas dijadikan bawaan gedhe (hayah, apalagi coba?).
  3. Yang terpenting: Sesuatu yang ”terlalu” itu tidak baik. Nah, salah satunya adalah terlalu berteori. So, berhentilah berteori, dan, Do It!

Wednesday, August 1, 2007

tanpa ada maksud untuk direnungkan...

dulu, ketika usia belum beranjak lima, bisa menangis untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan
sekarang, menangis pun tiada guna...
*eh, ngga lah, nangis itu nunjukin bahwa kita ini masih manusia (hoi...[terutama] cowok-cowok, jangan pada belagu, kalo emang sesuatu itu perlu ditangisin ya nangis aja. ndak usah sok kece deh [apa hubungannya coba???])*
ah, jadi pengen nulis ulang puisinya rangga di aadc:
===
kulari ke hutan kemudian menyanyiku
kulari ke pantai kemudian teriakku
sepi…sepi dan sendiri aku benci
ingin bingar aku ke pasar
bosan aku dengan penat
enyah saja kau pekat
seperti berjelaga jika kusendiri
pecahkan saja gelasnya biar ramai biar mengaduh sampai gaduh
ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok ratam putih
kenapa tak kau goyangkan saja loncengnya biar terdera
atau aku harus ke hutan baru pantai
bosan aku dengan penat
dan enyah saja kau pekat
seperti berjelaga jika kusendiri
bosan aku dengan penat
dan enyah saja kau pekat
seperti berjelaga jika kusendiri (ada apa dengan cinta)
==
so, diajeng dan kangmas semua,
  1. ternyata si mick jagger waktu teriak-teriak,”you cant always get what you want”, itu bener banget!
  2. ternyata filsuf jerman dari abad ketiga belas, meister exkhart, yang pernah mengungkapkan dalam karyanya bahwa, “seandainya satu-satunya doa yang kita lantunkan dalam hidup kita adalah `terima kasih`, itu sudah lebih dari cukup,” juga bener juga
  3. ternyata arvan pradiansyah pun benar adanya ketika mengatakan bahwa ada dua hal yang membuat kita tidak bersyukur : (1.) kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki, (2.) membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain
  4. ternyata juga, tidak harus jadi vina panduwinata untuk bisa berbicara dengan bahasa cinta:
    ==
    rindunya hatiku
    ingin kubertemu dengan dambaan hatiku
    kita pun berjanji
    berjumpa malam ini
    daku taksabar lagi menanti
    tapi bila kita bertatapan
    segala ucapan seakan kini tak perlu lagi

    kita bicara dalam bahasa cinta
    tanpa suara
    tanpa sepatah kita
    pelukan asmara mengungkapkan semua
    tanpa suara tanpa kata-kata (bahasa cinta, vina p)
    ==

gimana? masih kurang juga? baiklah ini dia: (duh Tuhan, kebaikan ini masuk kategori amal yang bisa mbawa aku ngapling surga-Mu tidak ya? hehehe, ngarep!)

  1. ternyata, lirik lagu selimut hati-nya dewa tuh keren banget.. (duh, mellow-nya kumat! :P ) :
    aku bisa untuk menjadi apa yang kau minta
    untuk menjadi apa yang kau impikan
    tapi ku tak bisa menjadi dirinya (dewa, selimut hati)
  2. ternyata, lagu-lagu padi ndak ada matinya. kayak yang ini:
    setulusnya aku, akan terus menunggu, menanti sebuah jawaban tuk memilikimu (menanti sebuah jawaban)
    dalam benakku, lama tertanam sejuta bayangan dirimu...semua tak sama, tak pernah sama..tak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu..(semua tak sama)

piye, puas ndak? ya ampun..belum jugak! duh, kalian berarti memang harus merenungkan ini:

  1. harta sejati adalah kesehatan, bukan emas dan perak (mahatma gandhi)
  2. kamulyaning urip iku dumunung ono ing tentreming ati (petuah jawa)

dan, sebagai penutup (Ya Tuhan, kalo yang tadi meleset sebagai kebaikan, semoga yang ini tidak. boleh ya? amien...!)

keputusan saya untuk mem-posting ini pun benar adanya. bener begitu kan? :D

ps: buat tantenya aqila, tersenyum yukz! oh ya, kapan kau lamar aku? :D

Monday, July 30, 2007

bertanyalah pada hati

bertanyalah pada hati...

seberapa sering anda menangis? sekali, dua kali, tiga kali, atau ... berkali-kali?

seberapa sering anda mengatakan, ”ibu, aku sayang ibu!” sekali, dua kali, tiga kali, atau ... tidak pernah sama sekali?

seberapa sering anda mengatakan, ”ayah, aku sayang ayah!” sekali, dua kali, tiga kali, atau ... tidak pernah sama sekali?

seberapa sering anda mengatakan, ”honey, i love you so much!” sejuta kali, dua juta kali, tiga juta kali, atau ... berjuta-juta kali?

VERMAK (LEPIS)

Silakan dibayangkan...
+++
”Bang, tolong dipotong ya! Dua centi-an lah. Eh itu udah dengan lipatannya ya”
”Sebentar ya, orangnya lagi ke dalam”

Tak lama, muncul laki-laki berumur, berkaos oblong, dengan meteran jahitan menggantung di lehernya
”Ini yang di-vermak?”
”Bukan bang, mo dipotong”
”Iya di-vernak, kan?”
”Bukan, di potong, digunting”
”Lha iya, di-vermak. Berapa centi?”
”Dua centi, tapi dipotong ya, bukan di-vermak”
”Lhah ya sama saja atuh, di-vermak mah dipotong juga”
”Ooh...”

Semenjak itu nambah satu kosakata di dictionary otak: Vermak=potong

Di lain hari, dengan tukang jahit yang berbeda
”Bang, ini tolong dikecilin pinggangnya ya, jadi 31. Berapa?”
”Uhm...sepuluh deh!”
”Ok, Saya tunggu ya!”

Dua menit dalam diam
”Eh bang, tadi vermak-nya jadi 31 kan ya?
”Lhoh, bukan di-vermak, dikecilin bang” (ini karena dictionary otak-nya belum di-upgrade, masih vermak=potong)
”Lha iya, sama saja, vermak mah ngecilin”
”Ooh..”
(sambil manggut-manggut sok ngerti, padahal lagi nge-updgrade dictionary otak: vermak= (1) potong; (2) ngecilin)
+++
Dua kejadian yang sudah lama sekali, tapi masih saja bikin tersenyum jika mengingatnya. Semuanya hanya gara-gara sebuah kata: Vermak
===
Vermak. Jika orang yang bisa berbahasa Indonesia dan normal pasti ngeh kalo kata ini artinya permak (memperbaiki, membuatnya menjadi lebih baik, ato kalo orang amrik bilang to make over). Tidak ada masalah kan? Cukup clear. Jadi, sekali lagi, jika orang yang bisa berbahasa Indonesia dan normal pasti ngeh dan tidak akan mempermasalahkan ini, apalagi dibikin tulisannya iya toh? Namun, selalu ada perkecualian. Dan itu..Saya!

Saya sebenarnya cukup fasih berbahasa Indonesia. Buktinya, tulisan ini pun saya tulis dengan bahasa Indonesia, iya kan? Artinya bukan ketidakbisaan bahasa Indonesia-lah yang menjadi sumber masalahnya. Jadi..., jangan, jangan...? Yup, betul! Masalahnya adalah saya tidak normal!

Hush, tenang dan sabar lah dulu, tidak normal bukan berarti gila. Saya waras kok, hanya saja memang sedikit tidak normal:D. Dan ini semua gara-gara Vermak! Lha iya, coba saja, dari mana juntrungnya, permak kok bisa jadi vermak. Ketemu pirang perkoro? (hey, bagaimana men-translate ini ke bahasa indonesia? Uhm...oh iya, bagaimana bisa?)

Tapi, yach karena saya orangnya tidak normal, suka ngomong sendiri (jangan dihina dong! Ini much better daripada ngomongin orang lain, hehehe), maka saya mencoba menganalisis asal muasal kata vermak:
  • Dari bahasa Belanda
    Dalam otak saya, ketika membaca kata Ver-mak (sengaja saya pisah, untuk memberikan tekanan di kata mak) terbayang kalimat ini: ”Negara Indonesia adalah Negara Hukum (rechstaat) bukan negara kekuasaan (machstaat)"
    Nah, dalam analisis ketidaknormalan alias dugaan ngawur saya, Vermak berasal dari kata Vermacht (tolong, diucapkan dengak aksen londho yang kuentel ya :D ). Kok bisa? Ya bisalah. Biasa kan lidah Indische kita keseleo dan mencari yang sekiranya enak diucapin saja. Macht itu susah, karena kalo tidak biasa, bisa-bisa tenggorokan gatel (ga percaya? Coba aja, ngomong macht berulang-ulang, hehehe). Nah, macht itu be-ti (beda-beda tipis, red) dengan Mak, sebuah kata yang sangat membumi. Jadilah vermacht ke vermak.
    So, sekarang adalah tugas Anda semua, pembaca budiman untuk mencari kebenarannya, apakah ada kata Vermacht dalam bahasa belanda, OK! Analisis satu, done! :D
  • Berasal dari (lidah) orang Arab
    Sebelum menjelaskan analisis ketidaknormalan kedua, saya minta maaf. Afwan, afwan (maaf banget, red). Ndak ada niatan menyudutkan atau bermaksud nyenggol-nyenggol SARA (yang ada pengen nyenggol-nyenggol Sarah :P ). Ok ya..Ok.. Nah, di sini ada dua kemungkinan.
    Kemungkinan pertama, pemakai jasa permak jins pertama kali adalah orang Arab. Analisis ketidaknormalan saya ini berdasarkan pada: (1) Jins kan mahal, (2) Orang Arab biasanya sodagar kaya, (3) Sodagar biasanya perhitungan banget sama yang namanya duit. Dari persamaan (1)+(2)+(3) lahirlah kesimpulan sebagai berikut:
    Orang-orang Arab termasuk golongan The Have yang bisa beli jins yang harganya selangit (jaman dulu). Suatu hari, karena suatu sebab yang saya tidak bisa kemukakan di sini (sebenarnya sih, karena tidak tahu :D ) jins yang telah dibeli terlalu panjang, terpaksalah dibawa ke tukang permak (karena kalo beli lagi kan sayang duitnya, ingat persamaan [3]). Di sana dia bertemu dengan tukang permak, dan terjadilah dialog:
    ”Assalamualaikum”
    ”Alaikum salam”
    ”Ane mau verma’ jins. Ujungnya terlalu fanjang, ane mau ente fotong ujungnya”
    ”Beres Wan, ente pengen dipermak (dipotong, red) berapa centi?”
    ”Insya ’Allah tiga centi cukup. Besok ane ambil. Syukron (terma kasih, red) ya”
    ”Iye wan, syukron juga!”
    Setelah orang Arab itu pergi, tukang permak, yang ternyata lulusan sekolah ekonomi ini nyadar kalo kata permak yang diucapkan menjadi Verma’ (tolong diucapkan dengan akhiran huruf ’ain [huruf ke-18 dalam bahasa arab] dengan logat arab yang kuentehel) bisa menjadi Brand yang kuat, karena unique dan orisinalitasnya terjaga (tuh kan, tukang jahit juga sadar Brand :D ). Akhirnya, jadilah kata permak menjadi Vermak :D
    Kemungkinan kedua,
    orang Arab-lah yang pertama kali menjadi penyedia jasa permak jins. Analisis ketidaknormalan saya ini berdasarkan pada: (1) Jins kan mahal, (2) Orang Arab biasanya adalah sodagar, (3) Sodagar, punya naluri bisnis yang kuat, dimana ada peluang bisnis, pasti dibisnis-in, (4) Kebanyakan orang Indonesia sayang ama duitnya. Dari persamaan (1)+(2)+(3)+(4), lahirlah kesimpulan sebagai berikut:
    Suatu hari, one of Indonesian people, sebut saja namanya Kang Parno membeli jins. Entah karena salah waktu fitting, ato emang ngga dapet ukuran yang pas, jadilah, supaya pas di kaki, jins yang dibeli tersebut dibawa ke tukang permak yang kebetulan adalah seorang Arab. Dan terjadilah dialog:
    ”Assalamualaikum”
    ”Alaikum salam”
    ”Ane mo permak jins. Tolong ukuran perutnya dikecilin ya Wan”
    ”Oh..vermak jins. Beres. Sini ane ukur dulu ferut ente. Hm..28.5”
    ”Wan, berapa lama nih!”
    ”Oh, sebentar kok. Ente tunggu aja. Faling-faling seferemfat jam”
    ”Ya sudah ane tunggu”
    Bulan berganti tahun, Kang Parno sudah semakin makmur, sudah menjadi orang ternama, perutnya pun semakin membuncit. Akibatnya, jins kesayangan pun sudah susah untuk dipakai lagi. Tapi karena Kang Parno, sayang duit dan sayang jins, pergilah ia ke orang Arab penyedia jasa permak jins (yang dulunya ngecilin jins-nya). Di sana, terjadilah dialog lagi:
    ”Assalamualaikum”
    ”Alaikum salam”
    ”Wan, tolong di verma’ ya
    (ini sengaja diucapkan oleh Kang parno untuk menghormati penjahit Arab). Perutnya digedein. Ane udah ukur di rumah, 37!”
    ”Beres bos!" (ini juga sengaja diucapkan penjahit Arab karena tahu Kang Parno udah jadi Bos)
    Singkat kata, singkat cerita, sejak saat itu, berkat bantuan Kang Parno dengan jins kesayangannya kalimat Verma’ menjadi terkenal. Akhirnya, jadilah kata permak menjadi Vermak :D

Begitulah, sodara-sodara semuanya. Sekiranya sudah cukup penjelasan dan analisisnya. Jika memang ini benar, ya syukurlah, jika salah, tolong saya jangan di-VERMAK! :D

Friday, July 27, 2007

jalan-jalan khayalan

Jika bisa memutar waktu, kemana sang waktu akan Anda gerakkan?
+++

Siapakah mau ikut, ayo berangkat, pergi denganku
Di hari libur sekarang, pergi jauh, menuju bulan
Jangan lupa banyak-banyak,membawa bekal
Agar tidak kelaparan, di jalanan

Ayo kawan kita berangkat
Naik delman atau onta
Kita rame-rame..pergi ke bulan
Kita rame-rame..pergi ke bulan
Kita rame-rame..pergi..ke..bu..lan.. (Klarinet, Pergi ke Bulan)

Semalam saya memutar arah jarum jam, dengan mesin waktu. Jangan bayangkan mesin waktu dengan alat yang segedhe gambreng, layaknya di film-film Hollywood itu. Jangan pula bayangkan layaknya mesin waktunya Doraemon yang terlihat seperti permadani terbang-nya Aladdin plus stang motor itu. Mesin waktu punya saya portable abiez, di desain seperti jam tangan. User friendly banget, bahkan untuk orang yang gaptek seperti saya.

Waktu sudah saya set, 2001, tengah hari bolong, di musim kemarau. First destination: Toko Tembalang aka TOTEM. Sebuah toko yang kondang markondang di Kawasan Undip Semarang, tempat saya menghabiskan 5,5 tahun untuk berkuliah. Ya, saya memutar waktu kembali ke masa perkuliahan. (Maaf ya, tidak jadi pergi ke bulan, maklumlah adanya mesin waktu, bukan delman ato onta :D )

Dari Totem saya bergerak ke arah warung jus, yang nongkrong tepat di depannya. Di sana saya memesan sebuah jus. Alpukat dengan coklat yang extra banyak. Sambil menunggu jus, saya tersenyum-senyum sendiri. Tidak menyangka sangu sebesar 20.000 mempunyai value yang luar biasa di warung ini. Bagaimana tidak, jika saya kalap jus, saya bisa membuat 20.000 ini bermetamorfosis menjadi 100 gelas jus alpukat, dan itu berarti saya bisa nraktir teman satu angkatan sampe mabok jus. Ruarr biasa!

Senyum saya masih juga terkembang ketika jus alpukat yang manis itu bergerak ke kerongkongan saya. Membayangkan bagaimana dulu, jus alpukat hanya bisa saya nikmati di awal bulan, ketika kiriman uang datang, melalui mesin ATM bertuliskan: (Pecahan) 20.000 (:D), di GSG Tembalang. Membayangkan pula, bagaimana dulu, demi selisih 500 rupiah, saya memilih mengubah jus favorit, dari alpukat ke tomat, jeruk, bahkan tape. Sebuah pilihan yang ternyata juga dilakukan oleh sebagian teman kuliah dan kos, ato ini mungkin memang pilihan sebagian besar mahasiswa/i? :D

Senyum saya tidak berhenti berkembang, karena di tetes terakhir jus, saya mendapati manfaat lain dari mesin waktu portable ini. Saya yang dari masa depan, ternyata secara otomotasi me-replace diri saya di masa itu. Wuih, bener-bener mengingatkan saya pada serial Quantum Leap di episode Dr Sam yang menjadi dirinya sendiri, di masa muda.

Senyum saya kemudian menjadi sebuah cekikikan halus ketika sebuah sms mendarat di HP, ”Ndes, kuliah Tapak ga?” (Hehehe, rasanya sudah sejuta tahun tidak mendengar kata ”Ndes”). ”Aku bolos wae,” jawab saya sambil mesam-mesem ga jelas. Maklumlah, saya kan dari masa depan, jadi tahu dong kalo Tapak itu di dua tahun ke depan akan berubah menjadi seperti acara Midnight-nya Imelda FM Semarang, setiap Malam Jumat. Ada rekor pribadi di kuliah ini. Dikurung di kampus dan...tiga kali ngulang, teteup..CD, bo!. Horror!
Tapi, niat bolos urung terlaksana. Gara-garanya, sebuah sms dari teman kuliah yang lain,”Sing mulang RS loh!”. Jadilah, Kampus PWK Undip sebagai my next destination.

Kampus PWK di tahun 2001, di musim kemarau semakin gersang saja. Saya yang naik my lovely bike, Si Ceper (duh Ceper, i miss you so much. Tega nian maling-maling durjana itu merenggutmu dariku. Semoga engkau tidak betah dengan pemilik barumu, Amin!), rasanya seperti masuk daerah padang pasir. Duh, tinggal kasih kaktus-kaktus, dan sedikit angin panas, maka yakinlah, saya akan berubah menjadi koboi sedang menaiki kuda di Texas sono!

Di pelataran parkir saya melihat mobil RS. Dan itu sudah cukup membuat saya deg-degan, layaknya orang jatuh cinta! Rasa deg-degan, bercampur kegembiraan yang anehnya sulit didefinisikan, membuat saya melewatkan waktu untuk ngobrol dengan Mas Rouf. Melewatkan nongkrong lima menitan di kantin, menikmati mendoan campur bumbu kacang yang aduhai gila uenaknya!

Selesai memarkir Si Ceper, saya bergerak ke Gedung A. Di sana saya melihat gadis tomboy bertas selempang, memakai sneaker, memakai kaos berkerah (hey, kemana kemeja lengan pendek bermotif kotak-kotak orange itu?) berjalan tergesa. Saya bersiap menyapanya, dengan membawa rindu dari masa depan, tapi sebuah tepukan di pundak membuyarkan niat saya, ”Ndes, Tayu piye?”. Kutolehkan kepala. Ternyata, teman kuliah dari ngapak zone. ”Apik, kelompokku jago-jago, hehehe. Eh, kok ga mlebu?” jawab saya sambil bertanya balik. ”Ga ah, nyong pan madang ndisit. Kencot kiyeh” jawabnya sambil mengelus perut yang sepertinya memang berbakat buncit ( :D ). ”Yo wis, aku mlebu sik yo” tukas saya sambil menuju ke ruang perkuliahan. Di sana saya mendapati kalo deg-degan saya semakin menghebat.

Di tikungan kampus, di dekat tangga, saya menarik napas. Di ujung mata, terlihat pintu ruang kuliah tertutup. ”Waduh, telat nih. Masuk ga ya?” pikir saya dalam hati sambil menghitung kancing, berharap mendapatkan bantuan jawaban, layaknya Ujian SPMB. Tapi niat untuk menjumpai RS sepertinya memang terlalu kuat untuk ditahan. Saya pun bergerak ke depan, gagang pintu sudah dalam pegangan. Menunggu untuk diputar. Tapi apa lacur, seiring dengan gerak tangan memutar gagang pintu, alarm mesin waktu saya berbunyi. ”Duh, low-bat Mak!” teriak saya dalam hati. Segera, saya percepat gerakan membuka pintu, tapi waktu sepertinya memang sedang tidak berpihak. Bersamaan dengan masuknya batang hidung, bersamaan dengan itu batteray mesin waktu habis, dan saya pun tersedot pulang, kembali ke masa sekarang.

Saya pulang membawa kekecewaan, gagal bertemu RS. Namun, hanya sesaat, karena setelah dipikir-pikir, selama memutar masa itu, saya lebih banyak tersenyum daripada tidaknya. Dan yang terpenting, mesin waktu pun selalu siap sedia mengantar saya.

Jadi kawan, mesin waktu telah di-charge ulang. Upgrade batteray pun telah dilakukan. Dijamin tahan lama! Siapa mau ikut?

wahai kau yang di sana, kemarilah dan tolonglah dia!

inilah kisahku dengannya, ”supergirl” yang sukanya ”lari-lari” padahal bisa terbang! :D
===
”Penting ya? Perlu ya dibahas?”
”Kudu’. Sadar neng, sadar, hallo..... ada banyak kepala yang penuh tanda tanya di sini, melihat tingkah polahmu yang semakin tidak jelas!”
”Bodo’!”
++
Bukan autis, bukan pula penderita schizophrenia, tapi dia selalu hidup di dunianya sendiri. Memandang langit, berharap ada bintang jatuh, lalu berdoa: "Kau yang di sana, jangan marah (lagi) ya!"

Langit tak lagi jingga, luna telah sempurna. Kau yang di sana, kemarilah dan tolonglah dia!

Kau yang di sana, aku tak kenal dirimu, tapi aku kenal dia. Dia bukan autis, bukan pula penderita schizophrenia, tapi dia selalu hidup di dunianya sendiri. Memutar lagu pungguk merindukan bulan, lalu berdoa pertemanan berganti rupa menjadi percintaan.

Langit sudah memerah, matahari sebentar lagi berhenti berjaga. Kau yang disana, kemarilah dan tolonglah dia!

Ahai...kau yang di sana, tak cukup berhenti marah. Tak cukup pula hanya masang tampang maniez gitu. Dia masih saja hidup di dunianya sendiri. Kemarilah, dan tolonglah dia! Sepertinya benar-benar ada cinta, tidak hanya sekedar online biasa!

Buat kau yang di sana, ”Kau benar-benar nyata? Atau..jangan-jangan kau hanya khayalannya dia?”. Aih..ndak penting ah, bergegaslah kemari dan tolonglah dia! Jangan lupa bawa coklat tiramisu anget ya!
++
”Neng, pulang ya, sudah malem. Besok online lagi. Kalo ada cinta, dia pasti datang”
(Eh kamu yang di sana, kamu datang ya, please. Liat tuh, dia masih ngarep yang tidak pasti-pasti, kasihan kan?)

Thursday, July 26, 2007

jus yang tak manis...

ini cerita tentang...
Namanya RS. Jangan pernah mencarinya. Dia tidak ada. Hanya ada di khayal saya. Bener-bener, beneran fiktif. Jadi, berhentilah menduga-duga, apalagi mengkait-kaitkan nama ini dengan siapa saja yang kelihatannya bisa dikait-kaitkan. Bener-bener, beneran fiktif, OK!

Namanya RS. Duh, please, ini bukan inisial. Hanya karena RS adalah inisial dari seseorang yang pernah membuat saya memerankan diri sebagai secret admirer. RS ”yang ini” bener-bener tidak ada hubunganya dengan RS ”yang itu”. Bener-bener, beneran fiktif, OK!

Tapi, iya, Anda betul jika Anda pikir RS adalah teman berwajah manis semanis jus di balada jus. RS hadir di Fatmawati, tepatnya di dekat RS Fatmawati. Yach, RS muncul di khayal karena di depan RS Fatmawati lah saya bisa memuaskan dahaga jus. Jadi, jelaslah kalo RS itu bener-bener, beneran fiktif. OK!

Meski fiktif, RS adalah teman chat saya. Cuman, ya itu karena fiktif, komunikasi kami menjadi tidak langsung. Karena jika langsung, saya takut dia menjadi tidak fiktif lagi, meski sejujurnya, DEMI TUHAN, jika diberi kesempatan meminta satu permintaan yang pasti terkabul, saya akan meminta ini kepada-NYA. Meminta supaya dia tidak fiktif lagi. Karena saya bener-bener pengen bisa bersamanya. Tidak seperti sekarang ini, terpisah di dunia yang berbeda!

RS dan saya, dua sisi yang berbeda. Saya suka sekali menggunakan perumpamaan, membuat dahi sedikit berkerut, dan sedikit menduga-duga, ”inikah maksudnya?” hanya untuk mengungkapkan segala sesuatunya. Sementara RS adalah sebaliknya. Itulah sebabnya, tak sekali dua kali dia salah mengartikan. Dan, biasanya jika sudah begini, saya yang memang relatif suka berdiam, makin berdiam. Menyembunyikan semua emosi dalam kediaman. Membiarkan dia menerjemahkan semuanya.

RS dan saya, hidup di alur dunia yang tidak sama. Saya suka di-Cih! Gombal! Atau, kata orang, punya cap sebagai buaya. Dia aseli pembenci buaya! Alur dunia yang tak sama ini memaksa kami berkomunikasi dengan cara yang tidak biasa. Saya menulis di sini, dia membacanya. Dia menulis di sana, saya membacanya. Itulah komunikasi kami. Telpon? Jangan harap! Lha wong fiktif kok, gimana mo ngomong langsung. Paling banter berkhayal nelpon ke ”HP-nya”, trus disambut dengan nada sambung pribadi Jadikan Aku yang Kedua-nya Astrid. Dia membaca ini? Semoga saja!

Meski punya cap buaya, saya tidak bisa bergerak cepat, bahkan dari keong sekalipun. Saya juga seorang pengecut yang takut menerjang batas fiktif. Batas fiktif yang sebenarnya sudah saya robohkan tapi muncul lagi karena terngiang kalimatnya akan bayangan masa depan jika kami tidak sekedar menjadi teman chat. Apa kata dunia?

Ya, apa kata dunia? Prek! Dunia paling hanya mencibir. Masyarakat juga hanya bisa mengelus dada, dan membiarkan dokter jiwa memeriksa keadaan psikis saya. Jika beruntung, selamatlah saya. Jika tidak? Ya, sampai jumpa di RS Jiwa!

Fyuh...bener-bener tipis sekali batasan antara fiktif dan tidak, tapi jika cinta yang saya rasa ke RS itu adalah fiktif, maka buat saya tidak ada lagi yang real di dunia ini. Jadi, ”Dear, jika satu saat kau merasa tidak bahagia denganku, maka aku akan siap melepaskanmu. Itu janjiku...”

ini (kira-kira) jawaban ini cerita tentang...
Dia berasal dari dunia nyata. Kemaren sebuah pesannya datang: ini cerita tentang.... Huh, panjang banget, tapi ndak ada isinya, sama sekali! Cinta fiktif, cinta real? Cinta begini! Sudahlah, ngomong sampai berbusa-busa lah sana! Aku tidak percaya. Hentikan saja, jus-mu tidak pernah manis. Hanya di mimpi saja. Sudah ya, sudah, aku capek...Indonesia sudah kalah, jangan kau tambahin dengan kekalahan yang lain lagi.
Baca ini ya!

ini (bukan kira-kira) jawaban ini (kira-kira) jawaban ini cerita tentang...
Akhirnya...maafkan semua salahku ya. Nanti, di kehidupan setelah ini, yang entah benar ada tidaknya, aku akan menjumpaimu, di dusun kasih, di seberang sana, dengan raga yang lebih baik, dengan jiwa yang lebih baik pula, dengan segenggam CINTA KITA! Amin...