Saturday, November 16, 2013

Surat Khayalan: Apa kabarmu?


Kenapa ya, kok ya ada orang itu nyebelin?
Tapi kenapa pula, makin nyebelin, seseorang itu makin ngangenin?
Tuh kan, jadi keinget kamu lagi...
==
Apa kabarmu
Hai cinta pertama
Ceritakanlah dulu
Selepas kau dari aku
Berapa banyak kah
Cinta yang menghampiri
Setelah sekian waktu
Apa kau bahagia?
...
Indah cinta pertama
Tak terulang lagi
Itu abadi.. (BIP)
==
Hari ini aku membawa berita. Tidak tentang surat khayalan. Ini kabar gembira. I’m on that way. I got my scholarship. Tidak ke Londo sana. Tidak pula M.Sc seperti yang dulu kau tuliskan di ”surat perpisahan kita”.

Kau yang disana, disini ada satu lagi spesies nyebelin. Hey,hey, please jangan dipotong...nope, not that kind nyebelin..she’s nyebelin in different way. Wajahnya ceria tapi sesekali matanya menyiratkan kegelisahan –sesuatu yang seringkali kamu keluhkan dulu, dariku. (hihihi, actually, saat menulis ini aku mbayangin kamunya langsung bilang, ”Wah, serasa ngaca ya!” :D )

Eh, udah cukup. Nanti malah terbawa suasana. Btw, How’s your family? Berapa buku sudah terbit? I’m sure, aku akan melihatmu berdiri di podium sastra itu, seperti yang selalu kau impikan. Jangan lupa, say my name on your speech, pake M.Ec.Dev lho, hahahahaha, meski baru calon, boleh dong pamer!

Kau yang disana, sometimes, somewhere ya, kita bertemu dan saling menjabat tangan dengan hangat. Bicara dalam diam..

Friday, November 15, 2013

Short chapter#3


Hari ini, sampai di subuh yang sama. Aku masih menunggu..

==
Pukul 2 pagi, di warung burjo kuhabiskan menu sahur puasa 10 muharram-ku: segelas teh manis hangat, sepiring nasi berlauk telur setengan matang dan orek tempe.
Bakda Subuh, aku tidur. Mataku sudah sangat pedes. Ini subuh 10 Muharram. Tapi ini subuh yang sama. Aku menunggu.

Weker membangunkanku pada pukul 7. Bakda dluha, kulajukan sepeda motor ke Direktorat Akademik. Ada KTM yang harus diambil. Namun, aku tidak beruntung. Ada kesalahan, fotoku ketlingsut. ”Jumat siang, minggu depan, kesini lagi Mas,” ujar bapak-bapak petugas di DA, datar tanpa ekspresi, setelah aku menyerahkan foto pengganti. Jika tidak ingat sedang puasa dan mbak manis di ujung meja sebelah, aku pasti sudah muni-muni.

08.15, kulajukan sepeda motor ke arah UNY. Dagangan mesti dibayar. Namun, kembali aku tidak beruntung. Miskomunikasi. Ada kelebihan pemesanan, dan itu mesti aku tanggung. Fyuh, sempat berpikir bahwa hari ini adalah my bad day. Sabar, sabar...mungkin ini yang namanya: cobane wong poso.

09.30, aku sudah selesai memarkir motor di parkiran fakultas. Hari ini ada 1 sesi kuliah. Sepanjang kuliah aku berusaha untuk menangkap materi, tapi aku ngantuk...

13.30, setelah dluhur, aku kembali ke ruang kuliah. Besok, aku –dan partnerku- presentasi. Ada materi yang mesti disiapkan. Di luar, langit mengubah mendung menjadi gerimis..kemudian...hujan. Ah, sore ini sepertinya tak ada langit jingga...

16.30, hujan masih mengguyur deras ketika motorku terperangkap dalam kemacetan di depan kampus. Tapi, entah mengapa, aku senang sekali. Rasanya sudah lama aku tidak terperangkap dalam hujan dan kemacetan. Kombinasi sempurna yang dulu lekat denganku selama bekerja di Jakarta. Dan, sepertinya ALLAH Ta’ala memang baik, kombinas itu menjadi semakin sempurna: motorku ngadat. Kampus-kos yang biasanya hanya 3-5 menit menjadi lumayan panjang: 30 menit. Sore ini, aku kuyup...

Malam ini aku menunggu. Mungkin tidak sampai pagi karena besok aku –dan partnerku- mesti presentasi. Mungkin pula yang terakhir karena minggu depan aku ada UTS...

00.00. Aku mendongak ke atas, menarik napas...you can’t always get what you want, meskipun itu niat baik...ya, mungkin hari-hari belakangan ini adalah chapter pendek, dimana aku hanya bisa berucap: ”Bismillah saja”.

Wednesday, November 13, 2013

Short Chapter#2


Dasarnya, aku memang terlahir bodoh. Jadi, tak mengapa jika untuk kali ini pun aku menjadi bodoh.
Aku akan menunggu. Sampai subuh pun akan kutunggu...
==
Langit jingga
Untuk alasan yang aku tidak memahaminya
Aku suka

Selariknya
Semburatnya
Kepak bangau yang menghiasi altarnya
Langit jingga
Aku suka

Siluet perahu
Ombak dan desir angin laut
Langit jingga
Aku suka

Langit jingga
Awan, meniti jalan sunyi
Aku suka

Dasarnya memang bodoh. Stone head. Mau gimana lagi? Ya wis, pecahkan saja gelasnya...kulari ke hutan ketemu macan..hehehe maaf ya mba dian sastro, puisinya dipenggal secara ngawur.

Hari yang melelahkan. Puasa 9 muharram. Tidur subuh untuk bangun lagi jam 8, ngambil barang pesanan orang. Gawe mesti tetep jalan :D Lanjut kuliah, jam 10. Siang jam 2, godaan futsal ga bisa ditolak. Hujan pun ga jadi penghalang. Pas main sih enjoy, begitu 90 menit berlalu, lidah rasanya keriiiing banget. Nelen ludah aja susah. Hehehe..puasa jalan terus, dong!
Besok Insya ALLAH, mau puasa lagi. Bismillah.
==
Dasarnya, aku memang terlahir bodoh. Jadi, tak mengapa jika untuk kali ini pun aku menjadi bodoh.
Aku akan menunggu. Sampai subuh pun akan kutunggu...

Alter Cengeng


Tak banyak yang tahu. Dalam suatu tempo. Saya terkadang tiba-tiba dilingkupi rasa haru, dan untuk kemudian mewek. Mostly, hal yang membuat saya mewek: kangen bapak ibu. Hal lain adalah jika melihat orang sepuh­ yang memilih untuk tetap bekerja, berjualan keliling, daripada mengemis.

Tulisan ini sudah sangat lama. Saya menuliskannya ketika masih bergelut dengan rutinitas di tempat kantor lama, dari atas lantai 20. Mungkin saya sudah pernah menempelkannya di blog, saya lupa, yang pasti saya ingin menempelkannya lagi...
===

Tidak untuk sedih-sedihan. Hanya sekedar ingin mengingatkan, betapa orang tua, sekeras apapun, se-cuek apapun, se-angkuh apapun, dipastikan menyembunyikan perasaan was-was, berharap anak-anaknya bahagia dan menyimpan selaksa kerinduan yang mendalam.
.........................
”Pak, kulo sae. Alhamdulillah, pangestune”

Jariku masih menekan tuts keyboard ketika suara adzan di komputer menggema. Aku menengok jam, pukul 11.50. “Ah, sudah dzuhur, pantes laper,” batinku. Aku tidak berhenti. Jariku kembali menekan tuts keyboard. Untuk beberapa saat aku terlelap dalam kediaman sampai sekelebat bayangan ibu dan bapak hadir. Aku berhenti. Jariku mengusap mata, kepalaku menggeleng lemah. Bayangan ibu dan bapak tidak surut. Aku melihat mereka. Duduk berdua menikmati sayur bening, ikan asin dan tahu goreng. ”Bocah-bocah gimana kabarnya ya Bu?” gumam bapakku ketika ibu menawarkan tahu goreng.
Jariku mengusap mata. Mataku pedih. Basah...

Ps:kamulyaning urip iku dumunung ana ing tentreming ati (kebahagiaan hidup itu terletak pada hati yang damai)

Short Chapter


Aku akan menunggu. Sampai subuh pun akan kutunggu...

Friday, November 8, 2013

KULIAH (lagi), Chapter 1: The Day of Pengumuman

Sesuai dengan janji, saya berusaha menulis tentang Kuliah S2, setelah mendapat beasiswa. Enjoy.. :)
==

Sepucuk surat (hihihi...ketika menuliskan ini saya teringat masa awal kuliah dan sedang menjalin long distance relationship dengan –ehm- bekas kekasih hati. Saya di Semarang, doi di Bogor. Ketika itu, handphone masih menjadi barang yang supermewah dan ukurannya pun masih segede Gaban, sehingga untuk berkomunikasi kami menggunakan jasa Tukang Pos. Uih, indahnya, dan sensasi deg-degan-nya itu lho.. dimulai dari ketika terdengar suara ”Pos..Pos...” -At that time, Pak Post’s voice sounds like heaven- sampai kemudian dengan pelan-pelan membuka sampul suratnya... *blushing mode on)

Haduh, apa-apaan ini, baru dua kata saja, saya sudah nikung ga karu-karuan. Maafken nggih. Now let me, lanjut...

===
Flash back..
Februrari 2013
Pukul 09.00. Saya sedang memelototi komputer, ditemani suara streaming Gen FM, ketika HP saya bergetar. Malas-malasan saya tengok. Oh, Mas ”X” dari Kabupaten tetangga. ”Halah, paling juga minta data –oya, si Mas-nya ini sedang tugas belajar di UGM, ngambil Double Degree MPKD-Belanda. Nti aja lah”. Dan saya pun melanjutkan rutinitas –tanpa membuka sms.

”Done!” seru saya sambil melirik jam tangan. Hm..pukul 12.00, waktunya istirahat. Saya sudah beringsut, bersiap untuk ke luar kantor ketika saya teringat bahwa ada sms yang belum saya baca.
And then...saya membaca sms itu berulangkali. Isinya: ”Selamat ya, keterima di Bappenas, tapi kok tidak DD?” Mata saya berbinar. Kebahagiaan memenuhi dada. Segera saya balas, ”Wah, saya malah belum tahu mas, sebentar saya cek. Kalo benar, Alhamdulillah. Suwun infonya.”

Tak menunggu lama, saya membatalkan niat istirahat dan membuka situs Pusbindiklatren Bappenas, dan Alhamdulillah, ada nama saya di sana. Saya pandang lagi. Dengan sedikit lebay (hehehe), saya nyubit tangan saya (ya..ya...ya.., pengennya sih ada mba-mba yang manis yang nyubitin tapi adanya cuman si Bos, yo terpaksa nyubit sendiri. Mosok bapake takminta nyubit, hehe). Sakit. Alhamdulillah, ”Yes!” teriak spontan saya. Sebentar, saya sadar, dan saya liat si Bos meliat ke arah saya dengan mata kaget. ”Eh,  maaf Pak, biasa, kumat isengnya,” jawab saya asal. ”Oh... yowis tak pikir kesambet,” jawab si Bos. Dan saya pun kembali memelototi komputer.

Sungguh, waktu itu, saya merasa lega (mungkin se-lega orang sakit perut yang kemudian menemukan WC kosong, sehingga tidak perlu antri sambil angkat-angkat kaki dan mondar-mandir nahan mules tapi tetep kudu senyum ketika papasan ama orang *eh, hehehe). Dada saya penuh dengan kebahagiaan. Tapi, tak lama saya sedikit merasa aneh,”Kok MEP UGM?” Saya ketik Ctrl+F: Perancis. Hasilnya nihil. ”Kok?”

Segera saya pencet nomor telpon Pusbindiklatren. Mau tanya. Kok bisa saya keterima di MEP UGM, padahal saya kan (sesuai lamaran) maunya: DD UNDIP-Perancis.
”Halo, Pusbin ya”
”Iya”
”Saya Muhammad Taqiyyuddin Pak. Berdasarkan pengumuman di website, saya keterima. Tapi kok di UGM ya Pak? Kan saya nglamarnya DD Undip Perancis?”
”Begini Pak.....bla,,bla....”
(Intinya, memang saya keterimanya ya di MEP UGM. Saya pikir, ya sudah. Saya sudah ikhtiyar, jodoh saya memang dengan UGM. Saya pun sudah sangat bersyukur, karena saya sempat tidak yakin akan lolos mengingat ketika tes, saya masih dalam proses rawat jalan. Alhamdulillah..)

===

Ya, sepucuk surat. Mendarat tepat di meja kantor saya. Isinya: keterangan bahwa saya telah diterima di Magister Ekonomika Pembangunan UGM Yogayakarta dengan konsentrasi: Perencanaan Pembangunan Daerah. Waktunya relatif pendek –karena saya masuk kelas akselerasi-  dari September 2013 s/d September 2014 (13 bulan). Ini rilis resmi, karena selain ditujukan kepada saya pribadi, surat ini juga ditujukan kepada Badan Kepegawaian Daerah dan Bupati.

Berbekal surat itu, saya bergegas ke BKD. Dan alhmadulillah, ALLAH Ta’ala memberi kelancaran. And, yes! Here I am now: YOGYAKARTA....

(bersambung) 

Tuesday, November 5, 2013

bid'ah


Pengennya nulis yang ringan-ringan saja. Maklumlah, dengan kapasitas otak yang pas-pasan, hari-hari saya sudah penuh dengan kuliah yang padat. Namun apa daya, secara naluriah, hal-hal ringan tersebut, kok ya ndilalahnya, tidak nyantol. Ndak ada daya gugahnya alias tidak mampu menggerakkan jari untuk ”menari diatas keyboard laptop.” Jadi, mohon maaf, kalo saya menuliskan hal yang ”berat”di awal tahun 1435 H. Ini tentang: Bid’ah.

Jengah rasanya saya mendengar tentang bid’ah. Dengan mudah saya menemukan muslim yang dengan ”entengnya” men-cap muslim lain -yang adalah saudara- dengan sebutan ahli bid’ah, hanya karena beribadah dengan cara yang tidak sama dengan yang diyakini dan dilakukannya.

Tidakkah para pen-cap itu sadar bahwa orang-orang yang mereka beri stempel ahli bid’ah itu adalah orang yang juga menyembah ALLAH Ta’ala. Meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Rosulullah?

Seringkali argumen yang diberikan para pen-cap tersebut adalah bahwa ”para ahli bid’ah” tersebut telah menambah ibadah dan melakukan ibadah tidak seperti yang Nabi Muhammad ajarkan.

Yang paling banyak disorot adalah tentang doa kepada mayit. Dikatakan bahwa doa kepada mayit tidak akan sampai, dan jika melakukannya, salah satunya dengan Tahlil, maka akan tertolak dan bid’ah. Argumentasinya adalah setiap amalan akan terputus ketika seorang meninggal. Dan itu tidak pernah dicontohkan oleh Rosulullah.

Sebagian ulama mengatakan bahwa itu bisa ”dibantah” dengan hadits yang menyebutkan bahwa ada tiga perkara yang tidak akan terputus amalnya, meskipun sudah meninggal, salah satunya doa anak yang sholih. Tapi ijinkanlah saya melihatnya dari perspektif pribadi. Menurut saya, doa kepada mayit akan sampai dan didengar oleh ALLAH Ta’ala. Tidak harus anaknya. Orang lain pun bisa. Dasarnya adalah sholat jenazah. Tidakkah dalam shalat jenazah kita memanjatkan doa-doa dengan harapan ALLAH Ta’ala memaafkan segala dosa jenazah, mengasihinya dan melapangkan kuburnya? Kalo memang tidak sampai, lalu untuk apa kita shalat jenazah?

Kemudian, renungkanlah kejadian ini –monggo dicari sendiri haditsnya:
Tahukah, bahwa bacaan pada Takbirotul Ikhrom (Allahu Akbar Kabiiro, dst) bukanlah berasal dari Rosulullah, tapi berasal dari salah satu sahabat? Apakah kemudian Rosulullah memarahi sahabat tersebut dan menyebutnya dengan ahli bid’ah –karena telah menambahkan bacaan dalam sholat? Tidak!

Contoh lainnya adalah tentang bacaan pada I’tidal dan tata cara sholat makmum yang masbuk (tertinggal shalatnya). Diriwayatkan dalam hadits, bahwa bacaaan dan tata cara inipun bukan berasal dari Rosulullah, namun Rosulullah mengijinkannya.

Saya ndak akan menuliskan ayat –monggo kalo mau men-judge dengan mengatakan bahwa tulisan ini ’sampah’ karena membahas masalah bid’ah namun nir dalil. Saya hanya menyampaikan apa yang saya yakini. Saya menghormati jika kemudian ada perbedaan diantara kita. Saya hanya ingin menahan diri dan lidah, dari mudahnya mengucap kata bid’ah. Apalah saya?